Sudah Nonton Sherlock Season 4 Episode 3? Ini Reviewnya

Bagi penggemar Sherlock Holmes, pasti Anda tahu dengan serial Sherlock yang ditayangkan oleh BBC One. Sherlock adalah serial televisi yang diadaptasi dari karya Sir Arthur Conan Doyle. Sudah tentu, cerita serialnya adalah seputar petualangan detektif Sherlock Holmes dan rekannya, John Watson.

Nah, serial Sherlock ini sudah ada sejak tahun 2010 lalu. Hingga tahun 2017, sudah ada empat musim serialnya. Yang terbaru adalah Sherlock Season 4 episode 3. Tampaknya, episode tiga ini adalah episode terakhir dari serial Sherlock di BBC One.

Dalam posting ini saya ingin mereview episode 3 ini. Peringatan : review ini mengandung spoiler. Jadi, kalau Anda belum menyaksikan serialnya, silakan tonton dulu ya. 🙂

Kritik dari Penggemar Seputar Episode 3

Episode 3 berjudul The Final Problem. Episode ini diawali dengan adegan di sebuah pesawat. Seorang gadis kecil tampak ketakutan karena tiba-tiba semua orang di pesawat tertidur, bahkan sang pilot. Gadis yang ketakuan itu pun berjalan, lalu ia mengangkat panggilan telepon.

Di sinilah saya kaget.

Suara yang muncul diujung telepon adalah suara Jim Moriarty.

“Hello my name is Jim Moriarty,” ujar suara tersebut.

Sampai di sini saya langsung berpikiran, wah Moriarty ternyata kembali. Ini pasti bagian dari rencana jahat Moriarty.

Adegan berpindah ke rumah Mycroft. Di adegan tersebut, Mycroft (saudara laki-laki Sherlock) sedang asyik menonton film. Kejutan muncul, tiba-tiba di layar muncul video saat Mycroft masih kecil dan bermain-main dengan Sherlock. Sungguh adegan yang menyentuh.

Sayangnya, suasana langsung mencekam ketika muncul tulisan I’m back berkali-kali. Tiba-tiba ruangan Myrcoft terkunci. Ia langsung dibayang-bayangi oleh kerseraman. Suara perempuan tiba-tiba muncul dan menakut-nakuti Mycroft. Tak ketinggalan muncul badut yang mencoba membunuh Mycroft.

Kesan yang ditimbulkan adalah Eurus (baca : Euros), (saudara perempuan Sherlock yang hilang) telah kembali. Eurus atau si East Wind ini memang diceritakan punya kemampuan yang lebih hebat daripada Sherlock dan Myrcroft. Kebayangkan betapa luar biasanya kemampuannya. Saat menyaksikan adegan ini, saya merasa takut “wah jangan-jangan Myrcoft bakal mati nih.”

Tapi jangan kuatir, sebab itu tadi hanya rencana/jebakan Sherlock. Sherlock sengaja menjebak Mycroft untuk membuktikan teori bahwa ia punya saudara perempuan. Ketakutan Mycroft akan Eurus membuktikan bahwa Sherlock benar-benar punya saudara perempuan.

Secara umum, episode ini bercerita tentang petualangan Sherlock mengungkap masa kecilnya. Jika Anda sudah menyaksikan episode-episode sebelumnya, Anda tidak asing dengan sebutan redbeard (sosok yang dibayangkan sebagai anjing merah). Ketika Sherlock berada dalam bahaya/fase down, readbeard selalu muncul. Mungkin Anda masih ingat saat episode 3 di season 3 lalu (His Last Vow). Saat Sherlock sekarat, readbeard muncul. Siapa sih redbeard itu?

Nah di episode 3 inilah pertanyaan tadi terjawab. Ternyata redbeard bukanlah anjing yang menemani masa kecil Sherlock. Melainkan, redbeard adalah ingatan Sherlock akan teman masa kecilnya, Victor Trevor. Victor adalah teman masa kecil Sherlock yang dijebak dan kemudian dibiarkan mati (alias dibunuh) oleh Eurus Holmes. Hal ini luar biasa, sebab sebagai bocah usia 5 tahun, Eurus sudah punya kemampuan membunuh layaknya penjahat profesional. Tak cukup sampai di situs, Eurus pun melakukan ritual musgrave. Alhasil, rumah keluarga Sherlock pun habis terbakar. Luar biasa nih bocah, gokil.

Eurus Holmes kecil. Dari tiga bersaudara, Eurus dianggap memiliki kemampuan terbaik.

Akibat ulahnya, Eurus langsung diasingkan di penjara khusus bernama Sherrinford. Penjara ini khusus digunakan untuk menampung penjahat-penjahat berbahaya di dunia. Bahkan Myrcoft menyebut penjara ini layaknya neraka bagi dunia.

Siapa sangka, akibat kemampuannya yang luar biasa, Eurus justru menjadi penguasa penjara tadi. Cukup berbicara dengan Eurus, semua orang akan terpengaruh. Mulai dari dokter yang menangani Eurus, kepala penjara, bahkan sampai Jim Moriarty, semua terpengaruh dan berada dalam kendali Eurus. Tak heran, Eurus pun bisa dengan bebas keluar penjara dan menebar ancaman ke pihak-pihak yang ia inginkan.

Di episode ini, Eurus seolah berhadapan dengan Sherlock. Eurus memberikan kasus-kasus yang harus dipecahkan oleh Sherlock. Tak sekadar kasus, tapi juga permainan-permainan yang menyentuh emosi. Mulai dari Sherlock yang harus bilang “I love you” ke Molly Hooper, Sherlock yang harus membunuh antara Mycroft atau John, dan banyak lagi.

Salah satu adegan di The Final Problem. Dalam adegan ini, Sherlock harus memilih membunuh Mycroft atau John. Sherlock justru hendak meledakkan kepalanya.

Puncak  terjadi ketika Eurus mencoba membunuh John dengan menenggelamkannya di sumur tempat Victor Trevor menjemput ajal. Sherlock harus memecahkan teka-teki Eurus. Akhirnya Sherlock berhasil memecahkan teka-teki itu, ia berhasil menemukan Eurus dan sekaligus menyelamatkan John. Bagi saya, adegan puncaknya ada pada saat Sherlock memeluk Eurus. Cukup dengan hanya dipeluk, Eurus seolah kalah dan memberitahu bagaimana cara menyelamatkan John.

Banyak penggemar Sherlock yang mengkritik episode ini. Mereka mengatakan bahwa episode ini terlalu emosional. Padahal Sherlock dikenal sebagai karakter yang sangat jarang menunjukkan emosi. Kritik datang bertubi-tubi. Banyak yang menganggap bahwa episode ini terlalu melenceng dari karya Arthur Conan Doyle, seolah-olah ini bukan Sherlock yang sesungguhnya.

Salah satu kritik atas episode The Final Problem.

Tak hanya itu, ada juga penggemar yang menganggap bahwa harusnya Moriarty dikembalikan seutuhnya dalam episode ini. Sayangnya, dalam episode ini Moriarty hanya jadi pelengkap. Padahal banyak yang berharap bahwa di episode akhir ini, pertarungan seru akan terjadi antara Sherlock vs Eurus vs Moriarty. Seolah-eolah episode ini gagal klimaks. Bahkan bisa dibilang pertarungan seru justru terjadi di episode 3 season 2, di episode The Reichenbach Fall.

Penilaian Saya Terhadap Episode Ini

Gagal klimaks, ya setuju dengan pendapat ini. Bagi saya, pertarungan paling seru justru terjadi di episode The Reichenbach Fall. Di episode itu terlihat jelas kejeniusan Sherlock (dibantu Mycroft) yang berhasil mengalahkan Moriarty.

Kendati gagal klimaks, saya tetap menikmati episode ini. Bahkan, menurut saya, episode ini bisa jadi penutup yang manis. Saya sudah membaca semua novel Sherlock Holmes, plus cerita-cerita pendeknya. Jika Anda juga sudah membaca, Anda pasti tahu bahwa puncaknya ada pada saat Sherlock berhasil mengalahkan Moriarty. Usai mengalahkan Moriarty, petualangan tetap berlanjut. Anda mungkin ingat ketika Sherlock membuat jebakan berupa patung tiruan dirinya di 221 B Baker Street. Patung tersebut ditembak oleh pendukung Moriarty. Sayangnya, itu hanya jebakan dan Sherlock berhasil menjebak si pendukung Moriarty tadi.

Pertimbangan lain adalah karya ini berupa serial televisi. Sebuah serial televisi yang diadaptasi dari karya Sir Arthur. Improvisasi/modifikasi seperti di episode 3 ini wajar dilakukan. Jika tak ada improvisasi semacam ini, lantas apa yang membedakan karya ini dengan serial/film yang sudah ada sebelumnya?

Sebagai penggemar Sherlock Holmes, saya menyambut modifikasi-modifikasi semacam ini. Sebab suatu karya akan kian nikmat jika dikemas dari berbagai sudut pandang baru. Intinya, saya membela apa yang dilakukan oleh tim produksi Sherlock. Meski gagal klimaks, tapi episode ini bisa jadi kado perpisahan yang manis. Kenapa kado perpisahan? Sebab tampaknya serial Sherlock akan tamat di season 4 ini.

Dalam kado perpisahan ini, sisi emosional Sherlock sangat terlihat. Adegan ketika Sherlock memainkan musik untuk Eurus membuat saya tersentuh. Pun ketika Sherlock sekeluarga hadir mengunjungi Eurus di Sherrinford. Keluarga itu kembali bersatu.

2 Hal Paling Luar Biasa di Episode Ini

Ada banyak hal menarik dalam epsiode ini. Namun dua hal paling luar biasa menarik adalah :

  • Adegan ketika Mycroft ketakutan. Adegan ini terdapat di pembukaan episode. Dalam adegan ini, tampak jelas Mycroft menampilkan sisi emosionalnya. Sisi takutnya, sisi manusiawinya. Ketika menyaksikan adegan ini, saya tertawa dan sekaligus cemas. Saya cemas karena takut Mycroft harus meregang nyawa dibunuh oleh musuh (yang saya duga adalah Eurus). Namun saya juga tertawa karena melihat Mycroft yang ketakutan dan mencoba melawan. Payung yang dibawa Mycroft berubah menjadi pedang yang kemudian bisa jadi pistol. Di sini tampak sisi maskulin dari seorang Mycroft.
  • Adegan ketika Moriarty muncul. Diawali dengan lantunan lagu I Want to Break Free, Moriarty muncul dan turun dari helikopter. Layaknya bintang rock, Moriarty bergaya dan kemudian menyapa kepala penjara Sherrinford. Dalam adegan ini saya mengira bahwa Moriarty benar-benar kembali. Saya sempat menduga bahwa Moriarty adalah bos besar yang bekerja sama dengan Eurus. Keduanya menjadi duet maut untuk mengalahkan Sherlock dan menghancurkan England. Saya langsung kegirangan hendak menyambut adegan seru yang terjadi, tapi sayangnya semua berbalik. Penasaran? Cek video di bawah ini. Sungguh adegan ini membuat saya makin jatuh hati dengan akting Andrew Scott. Bisa dibilang, seluruh penampilan Andrew Scott dalam serial Sherlock adalah masterpiece.

Berapa Penilaian Saya Terhadap Episode Ini?

Saya memberi nilai 8,8 dari 10 untuk episode ini. Kenapa 8,8? Karena memang episode ini gagal menghadirkan klimaks. Kendati terdapat kekurangan, episode ini amat manis, menghadirkan sisi emosional dan cinta yang ditunjukkan oleh Sherlock terhadap orang-orang terdekatnya, John, Mycroft, Eurus, bahkan Molly. Sisi emosional dan jawaban atas masa kecil Sherlock inilah yang menjadi kekuatan utama episode ini. Seperti yang saya katakan, epsiode ini bisa jadi kado yang manis untuk penutup sebuah serial televisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *