Review Novel The Life List dari Lori Nelson Spielman

Menyentuh, menginspirasi, tapi penuh drama

cover-the-life-list-edisi-indonesiaItulah komentar saya tentang buku ini. Perlu saya ingatkan, penilaian saya dalam posting ini cenderung subjektif. Hal ini dikarenakan The Life List bukanlah tipe buku/novel kesukaan saya. 🙂 Kendati demikian, saya tetap menikmati membaca novel ini.

The Life List adalah novel percintaan yang ditulis oleh Lori Nelson Spielman. Versi bahasa Indonesia dari novel ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2015 oleh Gramedia Pustaka Utama. Sedangkan versi asli novelnya terbit pada tahun 2013. Harga jual novel ini (edisi bahasa Indonesia) sebesar 89.000 Rupiah.

Jika Anda sedang butuh bacaan (novel) tentang percintaan dewasa, plus cerita tentang mengejar impian, maka novel ini cukup menarik untuk dibaca. Dalam posting kali ini, saya ingin mereview novel berjudul The Life List ini. Apa saja hal menarik dari novel ini? Berapa nilai untuk novel ini? Yuk kita ulas.

Gambaran Cerita Novel Ini

The Life List bercerita tentang kisah Brett Bohlinger. Brett tampak memiliki segalaya : pekerjaan idaman, apartemen luas, kekasih yang tampan, dan ibu yang kaya raya. Sayangnya, ketika ibunya meninggal, Brett justru menerima warisan yang tak terduga. Alih-alih mewariskan perusahaan kosmetiknya, Ibu Brett justru mewariskan daftar impian yang harus diselesaikan oleh Brett. Agar bisa menerima warisan Ibunya, Brett harus menyelesaikan daftar impian tadi.

Daftar impian tadi dibuat oleh Brett saat berusia 14 tahun. Dan dalam novel ini, Brett diceritakan berusia 34 tahun. Isi daftar impian itu cukup aneh untuk orang yang sudah berusia 34 tahun. Contoh isinya misalnya :

  • berteman kembali dengan teman masa kecil yang sudah hilang kontak selama puluhan tahun,
  • memelihara anjing,
  • punya kuda,
  • jatuh cinta,
  • punya satu atau dua anak,
  • menjalin kembali hubungan dengan ayahnya (padahal ayah Brett sudah meninggal),
  • menjadi seorang guru,
  • tampil di depan umum.

Semula Brett sempat bingung dengan ulah ibunya ini. Bagaimana tidak, daftar impian tadi harus diselesaikan dalam waktu maksimal 1 tahun setelah ibunya meninggal.

Namun akhirnya Brett memutuskan untuk menyelesaikan daftar impian tersebut. Perjuangan menyelesaikan daftar impian tersebut membawa Brett ke episode baru dalam hidupnya. Ia bertemu orang-orang baru, lepas dari pria yang tidak ia cintai, berjumpa kembali dengan masa lalunya, dan pastinya Brett belajar hal baru.

Hal yang Saya Sukai dan Kurang Sukai dari Novel Ini

cover-the-life-listHal paling saya sukai dari novel ini adalah Lori menggunakan tokoh utama wanita. Seluruh isi novel ini ditulis berdasarkan sudut pandang wanita. Tokoh utama novel ini pun (Brett dan Elizabeth-Ibunya Brett) adalah wanita. Dengan demikian, usai membaca novel ini, kita (khususnya para lelaki) bisa makin memahami bagaimana cara seorang wanita memandang dunia.

Karakter wanita juga sangat dominan dalam novel ini. Mulai dari seorang Cathrine yang menjadi direktur utama perusahaan kosmetik keluarga Brett, keberhasilan Elizabeth (Ibu Brett) menjadi seorang pebisnis sukses, hingga munculnya karakter Miss Jean Anderson yang menjadi direktur Rumah Joshua.

Mayoritas tokoh penting justru para wanita. Dan menurut saya, itu bagus. Lori menawarkan sudut pandang baru dalam hal penyajian karya sastra.

Hal lain yang saya sukai adalah Lori menyentuh banyak dimensi cerita dalam karyanya. Lori membahas hal-hal kecil yang kadang terabaikan dari perhatian kita. Misalnya ia membahas tentang masalah pendidikan pada anak-anak dengan kebutuhan khusus (saya akui ini sangat luar biasa), tentang pentingnya impian pada para wanita, hingga tentang masalah sosial yang korbannya para wanita. Sanquita dan para penghuni Rumah Joshua adalah potret nyata tentang wanita yang jadi korban kemiskinan.

Sementara itu, hal yang kurang saya sukai antara lain :

  • Karakter Brett yang terlalu pemilih dalam urusan cinta. Ada beberapa laki-laki yang datang dalam kehidupan Brett. Mulai dari Andrew (mantan pacarnya), Brad (pengacara Ibu Brett), Herbert, hingga tentunya Dokter Taylor. Menurut saya, Brett terlalu membuat drama dalam percintaannya. Brettt kerap terlalu memikirkan apakah pria yang bersamanya benar-benar cinta sejatinya. (Hanya saja, ini wajar sih, namanya juga novel percintaan.) Selain itu, saya heran bagaimana Brett bisa tahan dengan Andrew (mantan pacarnya) yang pelit, materlialistis, dan begitu menyulitkan.
  • Ending cerita yang agak terlalu dipaksakan. Bagi saya, ending novel The Life List agak sedikit dipaksakan. Terlihat sekali dari  pertemuan Brett dengan pria yang kelak jadi pasangannya. Pertemuan mereka seolah hanya kebetulan dan selang beberapa waktu kemudian, seolah cinta mereka langsung bersambut. Ya meskipun sebelumnya Brett sudah cukup mengenal dan menjalin hubungan dengan pria tersebut, tetap saja saya merasa di  bagian ending masih agak dipaksakan.

Karakter Kesukaan Saya di The Life List

karakter-kesukaan-di-novel

Tokoh yang paling saya sukai dari The Life List adalah Herbert. Meski Herbert bukalah tokoh utama, saya justru menyukai karakter ini. Alasannya simpel, saya melihat Herbert adalah lelaki yang ideal. Ia tampan, puya karir yang bagus, peduli pada pasangan, suka anak-anak, dan pengertian. Intinya, Herbert ini pasangan/suami ideal lah.

Sayangnya, bagi saya, Brett Bohlinger sudah menyia-nyiakan kesempatan dari Herbert. Again, bagi saya Brett terlalu penuh drama dalam hal tertentu di kehidupannya. Bahkan saya menilai, untuk urusan memilih pasangan, Brett agak bodoh.

Well, meski hal ini agak disayangkan, tapi itu keputusan Brett. Sudah seharusnya kita hormati. 🙂

Selain Herbert, saya juga jatuh hati dengan karakter John Manson (ayah kandung Brett) dan Sanquita. John Manson adalah ayah yang keren. Ia musisi dan yang menyentuh adalah kesetiaannya untuk merawat anaknya-ZoI.

Sedangkan Sanquita (murid Brett), saya kagum dengan cintanya yang amat besar terhadap anak yang akan ia lahirkan. Perjuangannya untuk menyelesaikan pendidikan pun membuat saya terharu. Ia meninggal di usia 18 tahun, tapi kisah hidupnya telah memberi banyak pelajaran yang luar biasa.

Bahkan, saya merasa dialog/penceritaan tentang Sanquita justru lebih kuat. Saya beberapa kali sangat tersentuh dengan ucapan dan penceritaan tentang Sanquita.

Nilai Untuk Buku Ini

Berdasarkan pertimbangan di atas, saya memberi nilai 8 untuk buku ini.

Alasan saya memberi nilai tersebut adalah buku ini cukup menarik dan enak dibaca. Hanya saja, karena ending buku yang agak terlalu dipaksakan, plus karakter Brett yang cenderung penuh drama, saya urung memberi nilai di atas 8,5 untuk buku ini.

Jika diminta memberi rating, bintang 4 layak untuk disematkan pada buku ini.

Selain itu, saya juga memuji Lori sebab ia mampu menulis novel yang menarik dan karakternya hidup. Buktinya saya sampai menyimpan rasa suka dan sedikit bingung dengan “keanehan” Brett. Ini berarti karakter Brett benar-benar kuat dan nyata. Sampai-sampai saya menganggap Brett seolah teman saya sendiri.

Latar belakang Lori yang seorang ahli patologi wicara dan guru pembimbing juga menjadikan novel ini begitu hidup. Apa yang dikerjakan oleh Brett, sedikit banyak pasti dipengaruhi oleh background karir si penulis. Tak heran, bagaimana cara Brett melakukan pekerjaan, tantangan-tantangan yang dihadapi Brett, hingga beberapa kegagalannya sebagai guru pun terasa amat nyata.

Anda tertarik membaca buku ini? Atau justru Anda sudah baca buku ini? Bagaimana pendapat Anda tentang novel ini? Sampaikan pemikiran Anda di kotak komentar ya.

Mari berteman dengan Filobuku di Facebook, klik : Facebook Filobuku.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *