Nikmati Petualangan Seru Membaca Edensor

Edensor merupakan novel petualangan yang seru, sangat layak untuk dinikmati.

Andrea Hirata, nama ini mungkin sudah tidak asing bagi para penggemar sastra di Indonesia. Namanya melejit dan dikenal luas berkat karya berjudul Laskar Pelangi, sebuah novel tentang pendidikan yang mengambil latar di Belitong. Tak hanya itu, film Laskar Pelangi pun termasuk salah satu film yang paling laris di Indonesia.

Dalam posting ini, saya akan mereview dan sekaligus merekomendasikan novel Edensor (edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Bentang). Bagi Anda yang sedang mencari bacaan inspiratif, menghibur, dan sekaligus edukatif, novel ini adalah jawaban yang tepat.

Perkenalan Saya dengan Novel Andrea Hirata

Harus diakui saya menggemari karya-karya Andrea Hirata. Namun anehnya, saya justru mengenal Andrea Hirata dari novel Maryamah Karpov. Lho kok bukan Laskar Pelangi? Barangkali Anda bertanya begitu.

Cerita bermula ketika di bulan Juli 2012 saya mengikuti acara Kongres Anak Indonesia XI di Batam. Pengalaman yang mengasyikkan sebab bisa berkenalan dengan anak-anak Indonesia dari berbagai daerah lain. Waktu itu saya sempat mendapatkan teman satu kamar asal Kepulauan Natuna. Sebagai informasi, waktu yang harus ditempuh dari Batam ke Natuna adalah lebih kurang satu jam setengah dengan perjalanan udara. Kebayang kan betapa luasnya Indonesia, bahkan untuk dua daerah yang masih satu provinsi pun harus ditempuh dengan perjalanan udara yang lumayan lama.

Ketika sedang tidak ada agenda acara, kami (bersama beberapa teman lain) berjalan-jalan di sekitar Batam. Waktu itu, sepanjang perjalanan, ia membawa novel berjudul Marymah Karpov. Penasaran saya pun bertanya tentang novel tersebut, hingga akhirnya bermaksud meminjam. Waw… ternyata novelnya mengasyikkan. Semenjak itulah saya mulai menyukai karya Andrea Hirata. Berawal dari Maryamah Karpov, hingga kini saya sudah melahap hampir semua novel Andrea.

Laskar Pelangi merupakan tetralogi, yang artinya ada empat novel yang berada dalam satu kesatuan Laskar Pelangi. Nah Marymah Karpov adalah novel ke-4, sedangkan Edensor merupakan novel ke-3.

Sekilas Cerita Tentang Novel Edensor

Cover novel Edensor.

Sebagai bagian dari tetralogi Laskar Pelangi, maka cerita dalam Edensor merupakan lanjutan dari kisah hidup Ikal dan keluarganya. Dua tokoh dominan dalam novel ini adalah Ikal dan Arai, yang mana keduanya merupakan sahabat sekaligus keluarga sejak di novel Laskar Pelangi. Bagi yang belum membaca Laskar Pelangi, Ikal adalah tokoh utama Laskar Pelangi, representasi dari si penulis yakni Andrea Hirata. Keluarga Ikal pun juga diceritakan dalam novel ini, terutama ayah dan ibunya.

Edensor menceritakan  kisah mengembara Ikal di Eropa, khususnya kisah ketika ia dan Arai kuliah di Universitas Sorbonne, Prancis. Cerita-cerita yang diangkat antara lain ketika ia dan Arai berjuang untuk mendapatkan beasiswa, pengalaman ketika mereka kuliah, dan tentunya cerita ketika mereka mencoba menaklukkan Eropa. Tentu menaklukkan yang dimaksud adalah ketika mereka hendak menjelah Eropa hingga Afrika.

Jika kita sederhanakan, novel ini terbagi menjadi empat bagian. Empat bagian itu antara lain :

  • Awal mula impian si Ikal untuk menaklukkan Eropa. Bagian ini mengisahkan tentang masa remaja Ikal, pertemuannya dengan tokoh Weh yang akhirnya menanamkan jiwa petualang pada Ikal, hingga perjuangan Ikal untuk meraih beasiswa ke Sorbonne, Paris. Juga diceritakan ketika Ikal mulai berkarir, mulai dari menjadi salesman hingga pegawai pos.
  • Seputar kisah sehari-hari di Eropa. Di bagian ini Andrea Hirata menceritakan tentang kisah sehari-hari Ikal dan Arai kuliah di Eropa. Hal-hal yang diceritakan amat menarik, mulai dari ketika mereka pertama kali menginjakan kaki di Eropa, bertemu teman-teman, kehidupan pertemanan di kelas, dan tentunya menyangkut aspek akademis. Seperti misalkan tentang kegiatan riset yang dijalankan oleh Ikal dan Arai, tentang aktivitas belajar mereka, dan tentunya hubungan-hubungan dengan para profesor mereka. Tak ketinggalan juga diselipkan kisah cinta antara Ikal dan gadis Jerman bernama Katya.
  • Petualangan menjelajah Eropa. Tibalah musim panas yang menjadi masa libur bagi Ikal, Arai, dan teman-teman sekelasnya di Sorbonne. Saat itulah Ikal dan Arai ingin mewujudkan mimpinya untuk menjelajah Eropa. Namun karena dana yang terbatas, maka mereka harus berjuang mengumpulkan dana. Cara yang ditempuh adalah dengan menjadi seniman yang tampil di jalanan. Tentu Arai dan Ikal dibantu oleh temannya, yakni Famke Sommers, mahasiswi seni asal Belanda. Bagian ini mengisahkan Arai dan Ikal yang menjelajah daratan Eropa, mulai dari Belanda, Jerman, Denmark, Swedia, Norwegia, hingga ke Islandia. Tak cukup sampai di situ, mereka menjelajah sampai ke Rusia, ke Eropa Selatan (Yunani, Italia), tak ketinggalan juga Rumania, bahkan sampai ke Afrika.
  • Perjumpaan dengan Edensor. Usai menjelajah Eropa dan sebagian Afrika, kehidupan pun kembali ke kegiatan akademis. Suatu ketika profesor pembimbing Ikal pensiun dan pindah ke Inggris. Mau tak mau Ikal harus mengejar profesornya guna keperluan riset. Nah di akhir novel inilah diceritakan Ikal yang akhirnya berhasil sampai dan menikmati desa indah bernama Edensor (baca : Enzor) yang sudah ia impikan sejak kecil.

Apa Daya Tarik Novel Ini?

Satu kata, pas.

Itulah pujian saya untuk komposisi novel ini. Meskipun saya berharap adanya kisah dan penceritaan yang lebih, tetapi komposisi seperti inilah yang paling ideal untuk novel Edensor.

Sebagai pembaca, tentu saya mengharapkan petualangan yang lebih detail dan menyeluruh. Misalkan di novel ini tidak diceritakan secara detail bagaimana petualangan Ikal dan Arai di negara-negara Skandinavia. Padahal, Denmark, Swedia, Finlandia, Norwegia bahkan Islandia termasuk negara-negara yang paling unggul (dalam hal pendidikan dan kualitas hidup) di dunia. Dalam buku berjudul Geography of Bliss, Eric Weiner menceritakan pengalamannya menjelajah Islandia, yang masuk negara paling berbahagia di dunia. Sebagai pembaca, tentu saya berharap Andrea bisa membahas kisah di negara-negara tadi, sebab saya penasaran seperti apa kira-kira kalau Andrea Hirata menyajikan cerita berlatar negara Eropa Utara.

Tentu keinginan tiap pembaca pasti berbeda. Kadang apa yang diharapkan pembaca harus disingirkan demi komposisi yang pas dalam sebuah karya. Dan menurut saya hal itu tak masalah untuk novel Edensor ini. Sebab Edensor sudah menggambarkan secara pas seperti apa rasanya menempuh pendidikan dan sekaligus jadi petualang di Eropa. Saya yakin novel ini akan mengisnpirasi lebih banyak anak Indonesia untuk berani bermimpi, mau menempuh pendidikan yang lebih baik, dan pastinya bertualang merasakan sari pati dunia.

Daya tarik novel Edesor antara lain :

  • Menyajikan edukasi dengan sudut pandang kreatif dan menarik. Sama halnya dengan karya lain dalam tetralogi Laskar Pelangi, Edensor juga sangat edukatif. Elemen-elemen akademis disajikan dalam novel ini, misalnya perseteruan antara pengikut mazhab ekonomi klasik (Adam Smith) dan aliran teori ekonomi Keynes. Yang luar biasa adalah Andrea Hirata mampu menyelipkan humor dalam salah satu adegan ketika Michaella Woodward (tokoh penting yang memberi keputusan akhir tentang besiswa Uni Eropa) berdebat seputar ekonomi dengan penganut aliran klasik. Waw, bahkan debat ekonomi sekalipun bisa dijadikan bahan lelucon oleh Andrea. Tentu inilah karya yang luar biasa. Tak hanya itu, budaya belajar ketika studi di Eropa pun juga dibahas oleh Andrea Hirata. Andrea mengisahkan tentang betapa efisien dan unggulnya mahasiswa Jerman, ide-ide brilian mahasiswa Inggris dan Amerika, dan banyak lagi.
  • Kritik sosial yang tajam. Secara tersirat, di beberapa bagian Andrea Hirata menyindir pejabat-pejabat Indonesia. Well, memang banyak wakil rakyat dan pejabat Indonesia yang harus sadar diri. Misalkan ketika adegan saat Ikal dan Arai memasuki gedung Uni Eropa. Andrea menceritakan tentang delegasi dari berbagai negara seperti Afrika dan Republik Dominika yang datang ke gedung tersebut. Inilah petikan novel yang saya maksud.

“Setelah itu bergelombang kelompok orang dengan tanda pengenal Dominican Republic. Mereka juga gembira, menyapa setiap orang, tentu bersemangat akan mendiskusikan komputerisasi di kawasan Karibia. Wajah mereka optimis… Terakhir, di pintu masuk untuk orang-orang yang kurang penting, di pojok sana, aku melihat segelintir manusia yang rasanya kukenal. Aku sering melihat mereka bertengkar soal minyak tanah di televisi tanah air. Mereka kelihatan semakin tidak penting dengan sosoknya yang kecil di antara raksasa hitam dan putih. Agak berbeda dengan delegasi lain, mereka kurang percaya diri, sedikit malu-malu, tertunduk-tunduk memasuki kantor Uni Eropa. Ini pasti soal utang piutang.”

  • Tak hanya itu, Andrea juga menyinggung soal kejadian tahun 65. Yang mana kejadian tersebut menjadikan sebagian kecil orang Indonesia terasing dan jadi pengungsi politik hingga Eropa. Dalam salah satu bagian novel, Ikal dan Arai bertemu dengan orang Purbalingga yang kini justru menetap di Rumania. Adegan itu menyentuh dan sekaligus kembali mengingatkan kita tentang sejarah kelam bangsa bernama Indonesia ini.
  • Tokoh-tokoh yang kuat dengan karakternya masing-masing. Daya tarik ketiga adalah karakter dalam novel ini. Saya sangat menyukai tokoh-tokoh seperti MVRC Manooj, Famka Sommers, Katya Kristanaema, Gonzales, Ninochka, Naomi Stansfield, Townsend, dan banyak lagi. Mereka hadir dengan kepribadian mereka masing-masing, misalkan seperti Ninochka yang digambarkan seperti gadis kecil yang lemah tapi jagoan catur, atau Katya yang cantik semlohai, plus pintar dan efektif layaknya cara kerja bangsa Jerman, dan lain sebagainya. Tak ketinggalan, saya juga menyukai penggambaran Andrea tentang warga di Edensor. Nuansa Inggrisnya begitu terasa. Saya berbunga-bunga membaca tentang cara warga desa Edensor menyapa, tentunya khas Inggris, dengan mengucapkan dear atau love.
Tokoh Katya (diperankan oleh Astrid Roos) dalam film Edensor.(Sumber gambar : astrid-roos.artfolio.com).

Berapa Nilai yang Saya Sematkan Untuk Novel Ini?

Tanpa ragu, nilai 8,8 saya sematkan untuk novel ini. Dengan sederet keunggulannya, novel ini layak dijadikan rekomendasi bacaan. Siapapun Anda, jika Anda punya kecintaan terhadap bidang pendidikan, impian, atau traveling, Anda layak membaca buku ini. Percaya pada saya, karya ini adalah suatu sajian yang renyah dan menginspirasi.

Kita bisa belajar tentang budaya-budaya di Eropa dan fenomena sosial di sana. Kita bisa tahu seperti apa kira-kira rasanya menjadi mahasiswa di Eropa, bertualang di negara-negara Eropa Barat, merasakan sari pati kehidupan di pelosok Rusia, dan pastinya menikmati sajian hiburan di tengah waktu senggang.

Foto desa Edensor di bagian awal posting diambil dari situs Derbyshire-peakdistrict.co.uk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *