Review Buku Negeri Para Roh dari Rosi L Simamora

Sejujurnya, novel ini gagal memenuhi ekspektasi saya.

Dalam posting ini saya akan mereview novel berjudul Negeri Para Roh. Novel ini ditulis berdasarkan kisah nyata Dody Johanjaya. Penulis novel ini ialah Rosi L. Simamora. Novel ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Jika Anda ingin membaca novel Negeri Para Roh, barangkali review ini akan membantu. Perlu saya tekankan bahwa review kali ini cenderung dipengaruhi oleh subjektivitas saya. Oleh karena itu, Anda tentu perlu membandingkan review ini dengan review-review lain. Anda bisa melihat review lain seputar novel ini di situs Goodreads.com.

Mengapa novel ini gagal memenuhi ekspektasi saya? Berapa nilai yang saya sematkan untuk novel ini? Adakah hal menarik yang bisa kita pelajari dari novel ini? Berikut ulasan selengkapnya.

Sekilas Tentang Isi Buku

cover-negeri-para-rohJika Anda adalah anak generasi 90’an, mungkin sewaktu Anda SD, SMP, atau SMA, Anda¬† tahu betul program tv bernama Jejak Petualang. Ya, Jejak Petualang adalah program televisi yang cukup dikenal pada periode tahun 2000 – 2010an. Di program tersebut, tim Jejak Petualang menelusuri berbagai tempat yang menarik untuk dijelajah.

Cerita novel ini berdasarkan kisah nyata kru Jejak Petualang yang mengalami musibah pada bulan Juni 2006. Saat itu, 6 Juni 2006, longboat berpenumpang lima kru Jejak Petualang terbalik dalam perjalanan mereka dari Agats menuju Timika. Dari sejumlah kru tadi, mereka terpisah dan hanya ada 4 orang yang selamat. (Baca beritanya : di sini.)

Negeri Para Roh adalah novel yang menceritakan pengalaman bertahan hidup dari empat kru yang selamat tadi. Hanya saja, tentu tokoh-tokoh dalam novel Negeri Para Roh adalah tokoh fiksi yang direka oleh penulis. Di novel ini, lima tokoh utamanya antara lain Senna, Totopras, Sambudi, Bagus, dan Hara. Tokoh-tokoh ini diciptakan berdasarkan inspirasi dari kru Jejak Petualang yang mengalami musibah tadi.

Sepanjang novel, Anda akan menjumpai kisah tentang proses kerja dan perjuangan bertahan hidup kru-kru tadi. Anda akan mendapatkan cerita bagaimana kru program petualangan bekerja di pedalaman Papua, bagaimana mereka berhubungan dengan masyarakat asli di sana, dan pastinya perjuangan antara hidup dan mati mengarungi amukan Laut Arafuru.

Anda juga akan disuguhi dengan “pemandangan” tentang pedalaman Papua. Tak hanya itu, beberapa dongeng-dongeng dari suku Asmat pun akan menamani Anda dalam mengonsumsi cerita novel ini.

Pengalaman Anda Akan Mempengaruhi Persepsi Anda

Saya termasuk orang yang gemar traveling, dan sesekali bertualang (saya suka hiking) dan menjelajah berbagai daerah di Indonesia. Tak heran, novel ini cukup pas dengan hobi saya. Beberapa adegan dalam novel ini juga cukup mendebarkan dan sungguh saya rasakan.

Misalnya adegan saat para kru menelusuri sungai di pedalaman Papua. Meski saya belum pernah menjelajah pendalaman Papua, tapi saya cukup tahu seperti apa rasanya menjelajah sungai.

Ilustrasi petualangan di Papua (sumber gambar : https://pixabay.com/en/users/Freesally-1311100/).
Ilustrasi petualangan di Papua (sumber gambar : https://pixabay.com/en/users/Freesally-1311100/).

Selain itu, adegan saat para kru sedang mengarungi laut dengan longboat mereka, adegan ketika ombak mulai berdatangan dan mengguyur kapal. Adegan itu amat bisa saya rasakan. Bagi Anda yang sudah pernah menggunakan perahu motor/kapal motor mengarungi laut, Anda pasti akan merasakan sensasi saat membayangkan kisah perjalanan laut. Kisah ketika ombak yang cukup besar menghantam kapal Anda, lalu kapal sedikit terombang-ambing di tengah laut. Sungguh penceritaan dalam novel ini membuat saya teringat pada perjalanan laut yang pernah saya lakukan.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah pengalaman Anda pasti akan berpengaruh terhadap persepsi Anda dalam membaca cerita. Bagi Anda yang sering bertualang, pasti akan merasakan sensasi petualangan nyata saat membaca novel ini.

Sayangnya, pengalaman empiris ini juga sekaligus menjadi penghalang saya menikmati novel ini. Karena saya belum pernah punya pengalaman patah hati seperti tokoh Sambudi, saya merasa Sambudi ini mirip seperti seorang baj*ngan dan terlalu penuh drama.

Di novel ini, konflik yang dialami Sambudi adalah ia membenci Hara hanya karena Hara mirip dengan mantan pacar yang berkhianat pada Sambudi. Setiap kali membaca adegan/narasi saat Sambudi sinis dan membenci Hara, saya merasa seperti “well.. Sambudi, hidup lu penuh drama banget sih. Otak lu di mana? Hanya karena Hara mirip sama mantan lu bukan berarti lu juga harus membenci Hara.” Alhasil karena hal ini, saya merasa novel ini terlalu dibumbui dengan drama percintaan.

Percintaan dalam sebuah novel memang bisa jadi bumbu. Adanya unsur romansa kadang bisa jadi daya tarik tersendiri. Hanya saja, saya tipe orang yang kurang suka jika romansa dan cinta terlalu mendominasi konflik sebuah novel. Percintaan oke, tapi kalau bisa jangan terlalu banyak dan berlebihan. Dalam novel Agatha Christie sekalipun kadang ada unsur percintaan, tapi unsur itu hanya sekadar side story. Bumbu pelengkap, bukan masakan utamanya.

Bagi saya, ekspektasi saat membaca Negeri Para Roh adalah petualangan, perjuangan bertahan hidup, dan penjelajahan alam + budaya Papua. Tapi kenapa konflik yang dominan justru konflik perasaan? Konflik perasaan di tiap tokoh. Hara dengan masa lalu dan rasa tidak percaya dirinya, Sambudi dengan mantan pacaranya, Totopras dengan imannya, dan Senna yang tak bisa move on dengan kehilangan Bagus. Well, konflik personal semacam ini memang menarik, tapi bukan itu yang saya cari di novel dengan judul para roh dan negeri Papua. Alhasil, faktor inilah yang menyebabkan novel ini gagal memenuhi ekspektasi saya.

Hal Menarik dari Buku Ini

Kendati ekspektasi saya tidak terpenuhi, bukan berarti novel ini buruk. Saya tetap memetik pelajaran dari novel ini. Menurut saya, ada tiga hal menarik dari novel ini.

  • Kondisi Papua dan masyarakatnya. Dalam beberapa adegan novel, penulis menyoroti tentang kehidupan masyarakat Papua. Misalkan tentang anak-anak yang sedang mandi dan bermain. Saya melihat masih kurangnya kesadaran akan pentingnya kebersihan.¬† (Sekali lagi, jangan jadikan ini sebagai generalisasi. Ini adalah salah satu fenomena yang diceritakan oleh si penulis.) Tak hanya itu, dari penceritaan penulis, terlihat betapa tidak mudahnya akses transportasi di Papua.
  • Desain dan kemasan novel yang menarik. Cover novel ini penuh nuansa seni. Di bagian dalam buku kita juga akan menemukan hiasan-hiasan menarik. Hiasan ini akan dijumpai sebelum masuk ke sebuah bab yang baru. Hiasannya berupa gambar (seperti gambar ukiran) yang berkaitan dengan budaya Papua.
  • Dongeng-dongeng tentang suku di Papua. Di beberapa bagian novel, penulis juga menceritakan dongeng/cerita yang berkaitan dengan budaya di Papua. Cerita ini menarik dan memperkaya sudut pandang kita tentang budaya masyarakat di sana.

Evaluasi dan Saran

evaluasi-dalam-menulis

Usai membaca novel ini, saya pun memikirkan beberapa peningkatan yang bisa dilakukan. Tentu peningkatan ini bukan untuk novel Negeri Para Roh, sebab novel ini sudah terbit dan tidak mungkin diubah jalan dan kisahnya. Hanya saja, beberapa saran berikut dapat menjadi inspirasi/masukan bagi Anda yang suatu saat hendak menulis novel.

Ini dia beberapa saran dari saya :

  • Riset dan informasi/pengetahuan yang disajikan harus lebih mendalam. Saya menyadari bahwa tidak mudah untuk melakukan riset tentang budaya Papua. Ditambah lagi untuk observasi sekalipun butuh effort yang luar biasa, tenaga dan uang harus tersedia dalam jumlah banyak. Belum lagi tantangan medan yang berat. Hanya saja, saya merasa bahwa riset dalam novel Negeri Para Roh ini masih belum menyeluruh dan sangat dalam. Istilahnya, pengetahuan yang didapat usai membaca novel ini baru sebatas kulit luar tentang budaya Papua. Masih sebatas beberapa tradisi, cerita, dan kebiasaan masyarakatnya. Saya masih haus akan pengetahuan yang lebih dalam. Akan sangat baik jika novel ini juga diperkaya dengan konteks sejarah di Papua, bagaimana mereka hidup di masa lampau, dan lain sebagainya. Pelajaran bagi kita yang hendak menulis novel, riset adalah kunci sukses dari sebuah karya. Mau membuat dokumenter, feature, atau karya apapun, maka riset adalah jantungnya. Seberapa kuat dan dalam hasil riset kita akan mempengaruhi seberapa menarik dan dalam karya kita.
  • Bisa lakukan penceritaan dari berbagai sudut pandang. Dalam novel Negeri Para Roh, penceritaan hanya berasal dari sudut pandang para tokoh yang ada dalam kru acara petualangan. Menurut saya, hal ini agak membosankan. Sebab penceritaannya lagi-lagi hanya datang dari sisi Senna, Sambudi, Hara, Bagus, dan Totopras. Adegan-adeganya pun mayoritas hanya berasal dari kelima tokoh tadi. Barangkali akan jadi lebih menarik jika adegan dan penceritaan tidak hanya menyoroti lima tokoh tadi, tapi bisa juga dari sudut pandang pengusaha kapal yang menyewakan longboat, dari sudut pandang kru kapal, keluarga para klu kapal, dari para guru yang bertugas di Papua, ataupun dari para tim pencari korban. Misalnya diceritakan bagaimana suasana dan adegan saat tim penyelamat mencari korban, atau diceritakan tentang keluarga kru-kru kapal yang hilang, dan lain sebagainya.
  • Konteks masalah harusnya lebih diperjelas. Konteks masalah dan masa lalu juga perlu diperjelas secara mendalam. Sebab apa yang terjadi pada tokoh di masa sekarang pasti tidak terlepas dari peristiwa yang mereka alami di masa lalu. Saya masih belum mengerti mengapa Sambudi begitu membenci Hara. Dijelaskan bahwa Sambudi benci karena Hara mengingatkannya pada sosok mantan yang berkhianat. Saya sampai bertanya, penghiatannya separah apa sih? Bagaimaana cara berkhianatnya? Sayangnya dalam novel hanya diceritakan sebatas mantannya Sambudi berkhianat, Sambudi terluka. Bagi saya kebencian Sambudi masih belum jelas dan kurang kuat alasannya. Alhasil, buat saya, urusan Sambudi hanya drama belaka. Selain itu, kematian saudara Totopras pun juga lagi-lagi diceritkan secara singkat dan tidak mendalam. Saya bertanya-tanya, bagamana bisa kematian itu membawa dampak besar pada Totopras? Ketika menikmati novel, saya tidak ingin hanya sekadar diceritakan/diberitahu, saya ingin digambarkan secara jelas. Juga demikian tentang masa lalu Hara, saya juga tidak menangkap secara jelas seperti apa masa lalu Hara yang “katanya” tidak percaya pada dirinya sendiri.
  • Perkaya novel Anda dengan unsur budaya dan manusia. Manusia, inilah elemen terpenting dalam sebuah cerita. Sayangnya, dalam novel ini saya kurang merasakan sentuhan cerita dari manusia-manusia Papua. Saya ingin mendengar langsung “suara” orang-orang Papua. Tak hanya satu atau dua suara, tapi harus dalam jumlah/porsi yang banyak. Sayangnya, suara novel ini didominasi oleh mayoritas lima tokoh yang sudah disebutkan.

Nilai Untuk Buku Ini

Buku ini cukup menarik, sebab mengangkat sisi lain kehidupan di timur Indonesia. Apalagi bagi Anda yang gemar traveling, tentu buku ini dapat menjadi tambahan pengetahuan. Sayangnya, konflik dan gaya penceritaan dalam novel ini kurang saya sukai. Alhasil, saya memberi nilai 7,8 untuk novel ini. Nilai yang tidak terlalu tinggi memang.

Mengapa nilai tersebut yang saya berikan? Jawabannya karena novel ini belum berhasil memenuhi ekspekstasi saya. Semula saya mengira bahwa novel ini akan sangat kaya dengan penjelajahan seputar Papua, budaya Papua, dan lain sebagainya. Namun sayangnya, porsi terbesar dalam buku ini justru tentang pengalaman bertahan hidup para kru Jejak Petualang tadi. Ditambah lagi dengan konflik personal mereka. Meskipun itu pengalaman berharga dan bisa jadi pelajaran, adanya nuansa fiksi membuat kisah ini jadi sedikit berkurang kenikmatannya.

So sorry Negeri Para Roh. Novel ini tidak buruk, tapi jauh dari ekspektasi saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *