Review Buku Laskar Pelangi

Bagi sebagian dari Anda, mungkin sudah pernah dengar tentang novel Laskar Pelangi. Sebagai salah satu novel yang populer di Indonesia, Laskar Pelangi telah dibaca oleh banyak orang. Bahkan tak sedikit yang menganggap novel ini sebagai salah satu novel terbaik yang pernah ada di Indonesia. Sebagai gambaran, Laskar Pelangi sudah diterbitkan di 130 negara dengan 34 bahasa. (Sumber : berita Detik tentang pengharagaan Andrea Hirata.). Kebayangkan betapa populer novel ini.

Laskar Pelangi juga sudah difilmkan. Tak tanggung-tanggung, film besutan sutradara Riri Riza dan Mira Lesmana itu termasuk salah satu film terlaris sepanjang masa di Indonesia. Semenjak tahun 2008 sampai 2016, Laskar Pelangi memegang rekor jumlah penonton terbanyak. Tak kurang 4,6 juta orang menonton film Laskar Pelangi. Barulah pada tahun 2016, film Warkop DKI Reborn menyalip capaian Laskar Pelangi.

Riri Riza (sutradara film Laskar Pelangi). Foto ini merupakan salah satu koleksi foto Museum Kata Andrea Hirata di Belitung Timur.

Lantas, sudahkah Anda membaca Laskar Pelangi? Jika belum, maka jangan ngaku pecinta sastra. 🙂 Nah berikut review saya terkait buku Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata.

Gambaran Cerita Laskar Pelangi

Laskar Pelangi adalah novel tentang persahabatan dan pendidikan. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2005, novel ini menceritakan petualangan dan kisah hidup anak-anak Belitong yang tergabung dalam kelompok Laskar Pelangi. Laskar Pelangi adalah sebuah kelompok yang dibentuk oleh Bu Muslimah (seorang guru Muhammadiyah). Beranggotakan 10 orang, Laskar Pelangi mengarungi getir dan manisnya kehidupan masyarakat miskin di Belitong.

Yang menarik dari Laskar Pelangi adalah kelompok ini terbentuk karena keajaiban. Kenapa keajaiban? Sebab ketika hari pertama masuk sekolah (di kelas 1 SD), jumlah murid SD Muhammadiyah Gantong nyaris tak cukup 10 orang. Jika jumlah murid di tahun itu tak cukup 10 orang, maka terpaksa angkatan tersebut harus dibubarkan.

Well terus kalau angkatannya bubar, apa susahnya? Toh bisa cari sekolah lain kan?

Gampang jika kita punya banyak uang dan bisa mengakses pendidikan secara bebas. Namun jelas itu tak semudah membalik telapak tangan bagi mereka yang tak punya akses ke pendidikan layak. Cerita Laskar Pelangi ini berlatar sekitar tahun 80-90’an. Di masa itu, jelas tidak mudah bagi orang-orang kampung untuk bersekolah. Cerita Laskar Pelangi ini pun diambil dari kisah yang dialami oleh si penulis, Andrea Hirata.

Nah, 10 tokoh dalam Laskar Pelangi ini antara lain :

  • Ikal alias Andrea Hirata.
  • Lintang; Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara
  • Sahara; N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah
  • Mahar; Mahar Ahlan bin Jumadi Ahlan bin Zubair bin Awam
  • A Kiong (Chau Chin Kiong); Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman
  • Syahdan; Syahdan Noor Aziz bin Syahari Noor Aziz
  • Kucai; Mukharam Kucai Khairani
  • Borek aka Samson
  • Trapani; Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin Ilham Jamari
  • Harun; Harun Ardhli Ramadan bin Syamsul Hazana Ramadan.

Ada banyak petualangan seru yang dibahas dalam novel ini. Mulai dari pengalaman cinta pertama Ikal (tokoh utama), persaingan untuk berprestasi antar sekolah, perjuangan guru sederhana bernama Bu Mus dan Pak Harfan, kasih sayang orang tua dalam membesarkan anaknya, dan banyak lagi.

Membaca novel ini akan membuat Anda merasakan nuansa dan denyut nadi kehidupan masyarakat Melayu Belitong. Cukup dengan membaca novel ini Anda bisa membayangkan seperti apa rasanya hidup di pulau Belitong. Nuansa Belitong dihidupkan melalui berbagai latar masyarakat, seperti pekerjaan penambang timah, petualagan di pasar dan warung kopi Belitong, kecintaan Ikal akan musik dangdut, dan banyak lagi. Tak ketinggalan, aspek keindahan Belitong juga disorot secara megah dalam novel ini.

Museum Kata Andrea Hirata. Salah satu objek wisata di Belitung Timur. Jika berkunjung ke Belitung, jangan lupa untuk datang ke museum ini.

Jika Anda sudah menonton film Laskar Pelangi, pasti Anda sudah melihat indahnya pantai di Belitong. Nah, keindahan Belitong juga dilukiskan dalam novel setebal lebih dari 500 halaman ini.

Adegan-adegan menyentuh juga akan menginspirasi Anda. Salah satunya adegan ketika Lintang, bocah jenius yang tinggal di ujung Belitong, yang harus bertaruh nyawa hanya demi mengecap nikmatnya sekolah. Perjalanan puluhan kilometer bersepeda harus dilalui bocah kecil itu untuk bisa bersekolah. Kadang, di tengah perjalanan ia harus berjumpa dan tentunya mengalah dengan buaya. Tak hanya itu, suatu hari Lintang terlambat datang ke sekolah karena masalah yang ia temui di jalan. Ketika anak-anak Laskar Pelangi sudah hendak pulang sekolah, Lintang baru tiba dan hanya sempat menyanyikan lagu nasional Indonesia. Tapi tak apa, Lintang bahagia sebab ia masih bisa bersekolah.

Ada banyak sekali adegan menyentuh yang dapat membuka hati Anda. Tentu semuanya tak bisa saya ceritakan di sini.

Tak ketinggalan, humor-humor elegan khas Andrea Hirata juga muncul di novel ini. Seperti apa humor elegan khas Andrea ini? Humor yang saya maksud adalah Andrea mampu melucu tanpa harus meniggalkan ciri khas tulisannya. Tentu tiap penyaji humor punya cara berbeda untuk menghibur. Misalkan Raditya Dika dengan gaya bahasa gaul dan stand-up comedy-nya, atau Arswendo, Dee Lestari, atau penulis lain pasti punya gaya tersendiri. Nah gaya Andrea ini menurut saya unik dan beda.

Mungkin Anda bisa menyimak ulasannya dalam posting saya berikut ini : Review Novel Edensor.

Kritik Sosial Jempolan ala Andrea Hirata

Dari sekian banyak momen menyentuh di novel ini, momen paling membekas bagi saya ada di ujung novel. Momen tersebut ketika Lintang harus putus sekolah. Apa sebab?

Sebabnya adalah ayah Lintang yang seorang Nelayan, meninggal. Bocah Melayu itu tak punya asuransi, tak ada juga jaminan sosial dari pemerintah, alhasil ia tak bisa melanjutkan sekolah. Padahal, Lintang adalah murid paling jenius dalam kelompok Laskar Pelangi. Adegan dan penceritaan tentang putus sekolah ini membuat saya amat tersentuh. Bisa dibilang, hati saya teriris meyaksikan bocah jenis itu harus pupus harapan. Bandingkan dengan jutaan anak lain di luar sana yang seolah menyia-nyiakan pendidikan. Andai mereka bisa bertukar nasib.

Sama halnya dengan novel-novel Andrea yang lain, Laskar Pelangi juga kaya akan kritik sosial. Mulai dari kritik terhadap sistem pendidikan, pentingnya peran guru, tentang keadilan sosial bagi masyarakat bawah, dan banyak lagi.

Lewat Laskar Pelangi Andrea Hirata menyibak tabir bahwa jenius itu tak harus selalu pintar matematika. Memang Lintang adalah si jenius kelas. Ia jago dalam hitung-hitungan dan ilmu alam, tapi ada yang tak kala jenius bernama Mahar. Mahar tak sepintar Lintang dalam matematika, tapi kalau soal urusan seni, tak satu pun anak Laskar Pelangi sanggup menyaingi Mahar, bahkan seujung kuku sekalipun. Kisah heroik Mahar muncul saat ia memimpin teman-teman sekolahnya dalam festival seni untuk mengalahkan sekolah milik PN Timah. Terbiasa direndahkan, SD Muhammadiyah Gantong justru menaklukkan sekolah unggulan PN Timah. Semua tak lepas dari kreativitas seorang Mahar.

Singkatnya, Laskar Pelangi menghadirkan role model ideal tentang cara mendidik. Bu Mus adalah teladannya, dan cara ia mengajar harus ditiru oleh guru-guru yang ingin mendidik muridnya. Ingat, bukan sekadar mengajar, tapi juga mendidik. Jika seorang guru ingin membantu mengubah hidup muridnya, maka ia perlu belajar dari Bu Mus dalam novel Laskar Pelangi.

Ruang kelas SD Muhammadiyah Gantong (replika). SD ini terletak di Gantong, Belitung Timur. Abaikan tulisan di papan tulis yang dibuat oleh pengunjung.

Hal yang Saya Sukai dari Novel Ini

Laskar Pelangi bukan sekadar novel hiburan dan sumber inspirasi. Lebih dari itu, novel ini juga menghadirkan konten edukasi yang bersifat praktis. Pembaca akan diajak untuk mengenali atau kembali mengingat berbagai hal, seperti tentang tokoh-tokoh ilmu pengetahuan, teori-teori dalam ilmu pengetahuan, hingga cara konkret untuk belajar. Contoh cara konkret untuk belajar ini misalnya ketika Lintang mengajari Ikal untuk belajar bahasa Inggris.

Selain itu, novel ini juga dapat menjadi jembatan nostaliga bagi Anda. Dalam salah satu bagian novel, diceritakan bahwa Mahar menyanyikan lagu Tennessee Waltz. Usai membaca tentang lagu ini, saya pun langsung mencari tahu seperti apa lagunya. Hasilnya, lagu ini amat indah dan menjadi salah satu favorit saya. Berikut lagu Tennessee Waltz yang dibawakan oleh Patti Page.

Berapa Nilai Untuk Novel Ini?

Dari nilai 1 – 10, saya memberi nilai 9,2 untuk novel ini. Dengan nilai setinggi ini, Anda dipastikan akan menyesal jika tak meluangkan waktu untuk membaca novel ini. Minimal sekali seumur hidup, Anda harus merasakan kisah dalam novel ini. Menyimaknya, mengecapnya, dan memetik inspirasi dari sana.

Inspirasi bahwa pendidikan itu laksana cahaya surga, yang harus dibawakan oleh malaikat bernama guru, dan persahatan menjadi mata uang terindah di dunia. Laskar Pelangi tidak sekadar menghibur, tapi juga bisa membantu mengubah hidup pembacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *