Belajar Menyikapi Patah Hati dari Buku Raditya Dika, Koala Kumal

“Dik, kamu tahu gak istilah mama untuk orang yang sudah pernah merasakan patah hati?”

“Apa, Ma?”

Nyokap menatap mata gue, lalu bilang, ‘Dewasa’.

Dialog yang “dalam” tadi menjadi penutup buku Raditya Dika yang berjudul Koala Kumal. Sebuah novel yang bisa disebut “komedi patah hati”. Melalui novel ini, pembaca diajak untuk mengecap rasanya patah hati, lalu mendewasa dari hal tersebut. Tentu, novel ini tetap dikemas dengan penuh komedi seperti layaknya buku-buku lain dari Raditya Dika.

Apa Isi Buku Koala Kumal?

Koala Kumal adalah buku komedi yang menceritakan pengalaman Raditya Dika. (Katanya) buku ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata. Dan seperti buku-buku Radit yang lainnya, buku ini juga tetap bergenre komedi. Intinya, buku ini menyajikan pengalaman patah hati Radit. Mulai dari terkait pertemanannya, hewan peliharaannya, hingga tentunya percintaannya.

Total ada 12 cerita yang disajikan. Mulai dari cerita tentang Radit di masa SMP, cerita ketika ia mulai membangun karir sebagai penulis, cerita saat ia sudah “tua”, dan banyak lagi. Tua yang saya maksud adalah ketika Raditya Dika sudah banyak makan asam garam. Ketika ia sudah produktif sebagai penulis, sutradara, dan pemain film. Lewat Koala Kumal, kamu akan diajak untuk flashback kehidupan Raditya Dika.

Lewat buku ini, saya bisa memahami kenapa Raditya Dika belum kawin (Dit, kapan kawin, Dit?). Saya jadi tahu apa rasanya di posisi Raditya Dika, bahwa cinta dan patah hati itu memang berat. Tidak segampang kelihatannya.

Oh iya, di buku ini juga ada cerita tentang “Menciptakan Miko”. Bagi kamu yang sudah pernah nonton serial Malam Minggu Miko di YouTube, nah di buku ini kamu bisa tahu cerita di balik layar serial tersebut.

Cerita favorit saya di Koala Kumal antara lain:

  • Perempuan tanpa nama. Di bagian ini Radit menceritakan pengalaman-pengalamannya jatuh hati dengan beberapa perempuan. Sayangnya, meski ia jatuh hati, ia tetap tidak tahu nama si perempuan.
  • Menciptakan Miko. Bagian ini bercerita tentang proses Radit menciptakan serial Malam Minggu Miko.
  • Patah hati terhebat. Bagian ini menceritakan pengalaman Radit saat bersama salah seorang temannya. Yang mana si teman ini pernah punya pengalaman patah hati yang sungguh hebat. Saking hebatnya, saya pun merasa bahwa bagian inilah yang paling sedih di buku ini.
  • Balada Lelaki Tomboi. Di bagian ini Radit bercerita tentang pengalaman PDKT (pendekatan) dan pacaran dengan seorang wanita yang tomboi. Ceritanya, karena cinta, Radit pun terpengaruh. Radit mulai menyukai hal-hal yang disukai si wanita. Si wanita suka olahraga, maka Radit pun ikut menyukai olahraga. Bagian ini jadi favorit saya karena saya juga pernah merasakan apa yang Radit rasakan. Adakalanya kita jadi terpengaruh dan ikut menyukai hal yang sama dengan pasangan ataupun calon pasangan kita.

Berapa Nilai yang Saya Berikan?

Saya meyakini kalau tiap orang punya preferensi/selera masing-masing dalam membaca. Buku yang bagus menurut saya belum tentu bagus juga menurut kamu. Bagi saya, buku ini bagus.

Namun sayangnya, setelah saya baca komentar-komentar di Goodreads.com, ternyata cukup banyak yang menganggap buku ini tidak sesuai ekspektasi.

Sejumlah pembaca lama buku-buku Radit merasa buku ini berbeda dengan buku-buku Radit yang terdahulu. Bahkan, Sandra (salah satu member Goodreads) menulis bahwa Raditya Dika berubah.

“Well, gue, sebagai pembaca buku Raditya Dika dari buku pertama sampai bukunya yang ketujuh ini, ngerasain sesuatu yang berubah dari tulisan dia. Sebenernya gue udah mulai ngerasain sejak bukunya yang keenam (yang gak lucu itu). Ternyata Raditya Dika sekarang lebih suka nulis yang serius (dengan sekriwil komedi),” tulis Sandra.

Komentar salah satu pengguna Goodreads mengenai Koala Kumal.

Di Goodreads, rating buku ini 3,8 dari 5. Cukup baik.

Saya pribadi memberi nilai 8 dari 10 untuk buku ini. Alasannya karena saya menyukai buku ini. Dibanding buku-buku Raditya Dika yang lain, buku ini termasuk salah satu favorit. Saya pernah  baca Kambing Jantan, Babi Ngesot, Radikus Makankakus dan tentunya Marmut Merah Jambu. Entah karena selera saya memang suka yang begituan (yang berisi, mendalam, dan kalau bisa membuat mikir) atau karena pertambahan usia.

Dulu saya baca Marmut Merah Jambu atau Kambing Jantan ketika SMA. Namun Koala Kumal saya nikmati ketika usia sudah menginjak angka 20. Mungkin tidak hanya Radit yang berubah, tetapi saya juga berubah.

Gaya penulisan Radit pun juga berubah dibanding buku-buku  yang lama. Di buku ini Radit mendewasa, gaya menulisnya lebih rapi, dan sudut pandangnya benar-benar dari sudut pandang orang yang sudah dewasa (mungkin di atas usia 25-an). Masa ketika kamu mulai sibuk dengan pekerjaan, masa ketika patah hati menjadi sesuatu yang berbeda dibanding saat SMA. Masa ketika jatuh cinta terasa asing dan tidak segampang membalik telapak tangan.

Terlepas dari itu semua, buku ini akan cocok bagi kamu yang mau merasakan komedi sambil terbawa suasana sedih. Jika kamu ingin melihat patah hati dari sudut pandang yang berbeda, cobalah nikmati buku ini. Mungkin, kalau kamu sudah berusia di atas 20 tahun, sudah merasakan beberapa kali pata hati (yang mungkin parah), buku ini akan pas banget buatmu.

 

Jefferly Helianthusonfri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *