Creativity to Commerce : Buku Inspiratif Seputar Industri Kreatif

Jika Anda adalah seorang :

  • founder sebuah startup,
  • CEO perusahaan di bidang industri kreatif ataupun teknologi,
  • dosen yang mengajar bidang teknologi dan industri kreatif,
  • praktisi di bidang industri digital dan kreatif,
  • atau Anda tertarik memulai bisnis di bidang digital dan kreatif,

maka buku ini cukup menarik untuk Anda. Buku yang saya maksud adalah Creativity to Commerce. Buku ini ditulis oleh : Arief Yahya, Menteri Pariwisata Republik Indonesia pada era pemerintahan Presiden Jokowi.

Lantas, apa yang menarik dari buku ini? Apa saja inspirasi yang bisa kita petik dari buku ini? Berikut ulasan selengkapnya.

Buku Tentang Startup, Industri Kreatif, dan Dunia Digital

buku-creativity-to-commerceCreativity to Commerce adalah sebuah buku yang menggambarkan tentang industri kreatif di dunia dan Indonesia. Tak hanya sekadar menggambarkan tentang situasi industri tersebut, buku ini juga menawarkan sebuah solusi. Solusi yang dapat diadopsi oleh para pelaku stratup, pemimpin daerah, ataupun pemimpin perusahaan yang ingin turut mengembangkan industri kreatif dan industri digital di Indonesia.

Creativity to Commerce diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2014. Harga buku ini adalah 50.000 Rupiah.

Bagi pelaku stratup di Indonesia, solusi yang ditawarkan buku ini adalah model C2C (Comparative Strategy, Competitive Strategy, dan Cooperative Strategy). Model C2C ditawarkan sebagai alternatif dari berbagai model startup yang sudah ada. Contoh model tentang startup lain misalnya : The Four Steps To The Epiphany (diciptakan oleh Steve Blank), Lean Startup Model (Eric Ries), dan Running Lean dari Ash Maurya.

Keunggulan buku ini adalah buku ini meyajikan data-data yang dapat menggambarkan seperti apa industri digital dunia saat ini. Selain itu, juga ada beberapa studi kasus yang dapat memberi inspirasi bagi para pembaca.

Usai membaca buku ini, saya merasa tertantang dan sekaligus sedih. Saya merasa tertantang karena Indonesia menyimpan banyak potensi dalam industri kreatif dan digital. Jadi, sangat menarik jika kita bisa ikut berkontribusi dalam pengembangan industri kreatif di Indonesia. Sayangnya, ini masalah klasik Indonesia, pengembangan sektor industri kreatif masih perlu ditingkatkan. Bisa dibilang, Indonesia tertinggal beberapa tahun dibandingkan Amerika Serikat dan China. Singkatnya, kita dan pemerintah Indonesia punya banyak PR lho.

Inspirasi dari Buku Ini

Ada dua inspirasi yang saya dapatkan dari buku ini.

  • Cara valuasi sebuah startup.
  • Tingkatan dalam produk startup.

Cara valuasi sebuah startup. Usai membaca buku ini saya jadi tahu bagaimana para investor melakukan valuasi sebuah startup. Valuasi tersebut berbeda dengan cara tradisional. Pada cara tradisional, kita menilai suatu perusahaan berdasarkan cashflow perusahaan tersebut. Istilahnya adalah value for money. Sedangkan pada konteks startup, maka konsep yang dipakai adalah value for many. Nilai sebuah startup ditentukan oleh seberapa mampu startup tersebut menghubungkan orang-orang (connecting people). Makin banyak pengguna sebuah aplikasi/pengguna produk si startup, maka makin tinggi nilai startup tersebut.

Contoh, Facebook mengakuisisi WhatsApp dengan nilai US$ 19 miliar pada tahun 2014. 19 miliar dollar, bayangkan… betapa banyaknya uang tersebut. Jika saat itu 1 dollar = 12 ribu Rupiah, maka Facebook merogoh kocek setara 228 triliun Rupiah. Sebagai perbandingan, target pendapatan negara Indonesia pada APBN 2016 adalah sekitar 1800 triliun Rupiah. Hampir 1/8 target pendapatan Indonesia.

Apakah Facebook membeli WhatsApp terlalu mahal? Mari kita bandingkan. Saat itu WhatsApp punya 550 juta pengguna aktif. Artinya, harga per pengguna-nya adalah sekitar $34 (US$ 19 miliar : 550 juta). Bandingkan dengan Twitter atau Line. Di tahun tersebut, harga per pengguna Line dan Twitter adalah $72 dan $128. Jadi, lebih menguntungkan untuk membeli WhatsApp dibandingkan Line (pada tahun tersebut).

Inspirasi kedua adalah tentang tingkatan produk startup.Dengan memahami tiga tingkatan ini, seorang pelaku startup akan tahu strategi pengembangan yang perlu ia lakukan.

Ada tiga tingkatan produk, yakni :

  • Platinum,  yakni produk dengan tingkatan tertinggi. Produk platinum ini adalah produk yang sangat luar biasa dan mampu mengubah dunia. Contoh produk ini adalah mesin pencari Google. Ciri utama produk platinum adalah produk tersebut berisi terobosan baru, dapat digunakan oleh siapa saja (lintas bidang bisnis), dan kompetitor akan sangat sulit untuk menyaingi produk tersebut. Sulit karena teknologinya sangat tinggi, tertutup, dan sangat sedikit orang yang punya akses ke teknologi tersebut.

mesin-pencari-google

  • Gold. Contoh produk gold misalnya Facebook, Google AdSense, dan PayPal. Biasanya produk gold ini adalah produk-produk penghubung yang berupa platform dan bersifat lintas industri. Jadi, produk ini dapat digunakan oleh startup-startup lain. Contohnya begini, misalkan Facebook. Apapun perusahaan Anda, Anda bisa memanfaatkan Facebook untuk pemasaran. Misalkan Anda punya website berbasis membership, maka Anda juga bisa menambahkan fasilitas login via Facebook di web Anda. Dengan fasilitas ini, orang-orang bisa mendaftar di web Anda cukup dengan login ke Facebook. Jadi, ada banyak fasilitas dari Facebook yang dapat Anda manfaatkan untuk turut membantu pengembangan bisnis Anda.
Google AdSense, contoh produk kategori gold.
Google AdSense, contoh produk kategori gold. Google AdSense menghubungkan para pemasang iklan dengan pemilik website yang ada di internet.
  • Silver, tingkatan terbawah dalam produk startup. Produk ini biasanya paling banyak dan bersifat untuk mudah ditiru oleh kompetitor. Produk ini ditujukan untuk memecahkan masalah pada segmen pengguna tertentu. Misalkan situs Groupon yang digunakan oleh para penggunanya untuk mencari kupon-kupon diskon.

Kendati demikian, tak perlu risau produk kita ada di tingkatan mana. Sekalipun produk kita ada di tingkatan silver, kalau dikembangkan dengan baik, produk tersebut tetap bisa bersaing dan menjanjikan keuntungan yang tinggi. Pemahaman tentang tingkatan produk ini cukup membantu para pelaku startup dalam mengembangkan produk mereka.

Nilai Untuk Buku Ini

Saya memberi nilai 7,9 untuk buku ini. Nilai ini saya berikan karena saya mengharapkan sesuatu yang lebih dari buku ini. Semula saya menduga buku ini akan menjadi semacam panduan detail dalam membangun startup yang sukses. Namun penulis lebih membahas seputar model-model startup, kategori produk, dan beberapa studi kasus terkait pengembangan industri kreatif di Indonsia.

Bahkan, di beberapa bagian saya merasa buku ini terlalu mempromosikan Telkom Indonesia. Agak sedikit membosankan ketika harus membaca seolah-olah Telkom sedang berpromosi. Kendati demikian, saya rasa ini cukup wajar sebab Arief adalah Direktur Utama Telkom pada 2012 – 2014.

Namun ada beberapa inspirasi yang saya petik dari buku ini. Beberapa inspirasi tersebut sudah saya jelaskan sebelumnya. Hal yang paling saya sukai adalah buku ini menjadi pengingat bagi saya. Sebelum membaca buku ini, saya sudah mempelajari tentang dunia startup. Di tahun awal kuliah, saya sempat bergabung dalam program inkubasi startup. Jadi saya cukup mengenal beberapa model-model pengembangan startup. Nah ketika membaca buku ini, saya kembali ingat dan “diajak” untuk kembali mempelajari model-model startup tadi guna meraih keberhasilan.

Secara umum, buku ini bagus dan cocok untuk dibaca oleh mereka yang ingin tahu tentang industri kreatif dan digital di Indonesia. Saya sangat menyarankan agar buku ini dipelajari oleh para kepala daerah yang ingin mengembangkan industri kreatif digital di daerahnya. Pun buku ini juga dapat memberi insights bagi para pembuat kebijakan di perusahaan untuk menciptakan program-program yang mendukung industri kreatif digital di Indonesia. Mungkin ada yang tertarik membuat program CSR terkait pengembangan industri kreatif? Buku ini bisa jadi salah satu acuan. 🙂

Semoga bermanfaat dan menginspirasi.
Mari berteman dengan Filobuku di Facebook, klik : Facebook Filobuku.

Jangan lupa untuk menyukai halaman Filobuku di sini : Ikuti Filobuku di Facebook.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *