Review Buku Akar – Supernova Episode 2

Anda penggemar Dee Lestari?

Jika ya maka kemungkinan besar Anda sudah membaca buku yang satu ini. Buku yang saya maksud adalah Akar. Akar adalah novel kedua dalam seri Supernova. (Baca juga review seri pertama Supernova Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.)

Jika Anda penggemar Dee dan belum baca Akar, maka pasti terasa ada sesuatu yang kurang. Anda sangat perlu untuk membaca buku ini. Kenapa? Mari kita ulas di tulisan kali ini.

Tokoh Baru, Sudut Pandang Baru, Inspirasi Baru

Ilustrasi tokoh Bodhi (hak cipta gambar ada pada @pradipta19). Gambar ini diambil dari Instagram Dee Lestari.
Ilustrasi tokoh Bodhi (hak cipta gambar ada pada @pradipta19). Gambar ini diambil dari Instagram Dee Lestari pada Agustus 2016.

Ada tokoh utama baru di serial ini. Tokoh tersebut  antara lain : Bodhi, Guru Liong, Ishtar, dan Kell. Cerita diawali ketika Guru Liong menemukan seorang bayi unik di bawah pohon. Bayi dengan bentuk kepala yang aneh ini akhirnya dibesarkan oleh Guru Liong di wihara.

Bayi dengan kepala aneh itulah yang bernama Bodhi. Bodhi ini punya indera keenam, kekuatannya adalah mampu melihat dengan sangat peka. Sekadar gambaran, bayangkan Bodhi sedang melihat sepotong kue cokelat. Jika orang biasa hanya melihat kue berwarna cokelat, maka Bodhi bisa melihat kuman-kuman, bakteri, ataupun partikel-partikel di sekitar kue tersebut. Akibat kemampuan ini hidup Bodhi tidak tenang.

Akhirnya Bodhi memutuskan untuk meninggalkan wihara. Ia memulai petualangannya dengan berkelana dari satu negara ke satu negara. Istilah kerennya Bodhi melakukan traveling. Dimulai dari Malaysia, Thailand, hingga Kamboja.

Namun jangan bayangkan perjalanan asyik bak liburan, beragam masalah menghadang Bodhi. Misalnya saat hendak berangkat, Bodhi yang tak punya identitas (lah orang tua/asal usunya saja tidak jelas-gimana mau punya identitas resmi) harus berjuang setengah mati untuk mendapatkan paspor. Akhirnya Bodhi dibantu oleh seseorang membuat paspor palsu.

Di Malaysia Bodhi bertemu dengan rombongan backpacker. Pertemuan inilah yang mengantarkan Bodhi untuk bertualang hingga di Thailand. Di Thailand inilah titik balik hidup Bodhi. Ia bertemu dengan Ishtar Summer dan Kell. Kell adalah seniman tato yang mengajari Bodhi untuk menato. Kelak Kell ini punya peran yang sangat penting dalam petualangan hidup Bodhi. Bahkan Bodhi akan menjadi orang terakhir yang menato Kell sebelum Kell menjumpai ajalnya.

Sedangkan Ishtar adalah wanita cantik bak supermodel yang diam-diam menyelidiki Bodhi. Bayangkan wanita tercantik yang pernah Anda jumpai, gambaran seorang Ishtar tidak jauh dari hal tersebut. Di masa mendatang, Ishtar inilah yang akan menjadi salah satu musuh dalam petualangan Bodhi di Supernova.

Petualangan terus berlanjut. Bodhi berkelana sampai ke Kamboja. Ada banyak hal menarik yang akan Anda jumpai jika menikmati Akar. Mulai dari bagaimana Bodhi terjebak di ladang ranjau sisa-sisa perang, sampai Bodhi yang bisa meraup uang dengan bekerja di ladang ganja di Golden Triangle.

Akhir dari seri Akar akan berlanjut di mana Bodhi yang telah kehilangan dua sahabatnya (Kell dan Guru Liong), pulang ke Indonesia. Nah di Indonesia inilah Bodhi akan menjumpai banyak tanda tanya yang menuntunnya ke petualangan berikutnya.

Dee Menghadirkan Nuansa yang Berbeda

akarBerbeda dengan Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh yang lebih banyak menghadirkan nuansa Jakarta dan kota megapolitan, maka di Akar, Dee menghadirkan nuansa petualangan Asia Tenggara. Pembaca akan diajak berkeliling Asia Tenggara, khususnya ke wilayah Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Aroma Thailand dan Kamboja akan sangat tercium dalam buku ini.

Saya mengakui hebatnya Dee dalam melakukan riset. Ia sukses menggambarkan petualangan di Thailand dan Kamboja dengan sangat baik. Adegan demi adegan layak diacungi jempol. Mulai dari adegan ketika Bodhi bekerja di ladang ganja, petualangan Bodhi menelusuri jalanan rusak nan parah di pelosok Asia Tenggara, hingga adegan ketika Kell meregang nyawa persis di depan Bodhi.

Nuansa berbeda timbul karena adaya perpaduan tokoh-tokoh yang datang dari latar belakang berbeda. Tokoh-tokoh dari Indonesia (dengan budaya Indonesia) berpadu dengan tokoh-tokoh mancanegara (Kell, Ishtar, Tristan Sanders, Luca, Sorn Sum, Epona, dan masih banyak lagi). Perpaduan tadilah yang menghadirkan campuran warna nan menarik, berbeda, dan menyegarkan.

Membaca novel ini akan membuat kita seolah-olah ikut bertualang di daratan Asia Tenggara.

Tokoh Favorit Saya di Novel Ini

Ilustrasi Kell (pencipta gambar : @soniajusuf, hak cipta ada pada pecipta gambar). Gambar ini diambil dari Instagram Dee Lestari pada Agustus 2016.
Ilustrasi Kell (pencipta gambar : @soniajusuf, hak cipta ada pada pencipta gambar). Gambar ini diambil dari Instagram Dee Lestari pada Agustus 2016.

Meski Bodhi adalah tokoh utama dalam Akar, tokoh favorit saya justru Kell. Saya meyukai Kell karena Kell ini orangnya banyak becanda. Tokoh Kell digambarkan sebagai laki-laki ras Kaukasoid, ganteng, nyentrik, seniman, dan digilai banyak wanita. Bahkan di novel ini sempat disebut Kell ini menjadi “simpanan” istri-istri orang.

Kell dapat bebas berlibur di mana pun ia mau, dan “istri-istri”-nya yang justru menafkahinya. Barangkali beginilah surga dunia yang didamba sebagian lelaki.

Nah mengenai  Bodhi, karakter Bodhi ini mirip seperti biksu-biksu di film kungfu gitu. Tanpa rambut (baca : plontos), sangat memegang teguh ajaran wihara, jago bela diri. Bahkan di salah satu adegan diceritakan bahwa Bodhi harus berkelahi dengan seseorang. Dalam perkelahian itu, Bodhi justru berharap ia segera mati dan meninggalkan dunia. Ia ingin segera mengecap rasa kematian. Namun sayangnya sang musuh justru menghindarkan Bodhi dari kematian yang sudah di depan mata.

Bodhi pun marah dan langsung menghajar telak si lawan. Dengan satu hentakan pukulan, Bodhi sanggup membuat retak tembok. Sungguh besar kekuatan yang dimiliki Bodhi.

Kendati Bodhi punya banyak daya tarik, saya lebih memilih Kell dengan nuansa santai dan penuh humornya.

Nilai Untuk Akar

Dari 1 – 10, saya memberi nilai 8,7 untuk Akar. Bagi saya, Akar lebih menghibur dibanding Kesatria Putri dan Bintang Jatuh. Dalam Akar, Dee juga lebih piawai dalam menciptakan karakter-karakter unik. Perpaduan budaya antar tokoh tadi menjadi senjata andalan Dee kali ini. Buku yang terbit tahun 2002 ini adalah buku ke-2 dari Dee Lestari.

Keberhasilan Dee dalam mengemas traveling sebagai bumbu utama buku ini menjadikan saya tak ragu memberi nilai yeng lebih tinggi untuk Akar. Jika Anda suka traveling, berharap menemukan cerita traveling dalam bentuk novel fiksi ilmiah, maka Akar cocok untuk Anda baca.

Jefferly Helianthusonfri

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *