Rekomendasi Novel Kejahatan : Kereta 4.50 dari Paddington – Agatha Christie

Hanya butuh waktu 5 hari bagi saya untuk menyelesaikan membaca novel berjudul Kereta 4.50 dari Paddington. Membaca novel ini seolah membuat ketagihan. Karya Agatha Christie yang satu ini seakan menjadi candu yang memaksa pembaca untuk terus membaca.

Jika novel kejahatan adalah candu, maka Agatha Christie adalah bandarnya.

4.50 from Paddington diterbitkan pertama kali pada tahun 1957. Versi bahasa Indonesia dari novel ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pertama kali pada tahun 1987. Adapun novel yang saya baca adalah novel berbahasa Indonesia cetakan ke-7 (dicetak tahun 2014).

Lantas, berapa nilai yang pantas disematkan pada novel ini? Apa saja hal menarik dari novel ini? Mari kita ulas.

Gambaran Cerita Novel

cover-4-50-from-paddingtonSeperti lazimnya novel Agatha Christie yang lain, novel ini juga bertema tentang pembunuhan. Cerita bermula ketika Mrs. McGillicuddy sedang dalam perjalanan di kereta. Ketika itu, keretanya disusul dan bersebelahan dengan kereta lain. Nah, saat McGillicuddy sedang melihat ke salah satu gerbong di kereta tadi, ia melihat adegan pembunuhan. Seorang laki-laki mencekik seorang wanita. Sontak, kejadian tadi mengagetkan Mrs. McGillicuddy. Ia pun melapor pada polisi dan petugas stasiun. Sayangnya, mereka tidak percaya. Mereka menganggap apa yang dilihat oleh Mrs. McGillicuddy hanya sekadar lamunan/halusinasi orang tua.

Mrs. McGillicuddy pun bercerita pada sahabatnya, Ms. Jane Marple. Bagi yang belum tahu, Ms. Jane ini salah satu tokoh andalan dalam serial novel Agatha Christie. Ms. Jane Marple ini seperti seorang detektif yang punya kemampuan hebat dalam mengungkap sebuah kasus. Saya pun menganggap Ms. Jane Marple ini seperti versi wanita dari Sherlock Holmes. Hanya saja, tentu keahlian Ms. Marple berbeda dengan Sherlock Holmes. Cara penguraian kasusnya pun juga berbeda dengan Sherlock.

Ms. Marple pun tertarik pada kasus ini. Apalagi ada fakta bahwa mayat di wanita justru tidak ditemukan di kereta. Sepanjang jalur kereta pun juga tak ditemukan mayat si wanita. Tentu kita bertanya-tanya ke mana hilangnya mayat tersebut? Tak adanya penemuan mayat ini menjadikan apa yang dikatakan Mrs. McGillicuddy bagai isapan jempol belaka.

Petualangan pun dimulai. Ms. Jane Marple mulai menyusun rencana untuk mengungkap kasus ini. Ms. Marple mulai menyusun dugaan, lalu ia meminta bantuan Lucy Eyelesbarrow. Lucy Eyelesbarrow, seorang wanita muda yang berkarir sebagai asisten rumah tangga. Kendati demikian, jangan bayangkan ia seperti asisten rumah tangga di Indonesia (yang seolah pekerjaan rendahan). Ya memang Lucy asisten rumah tangga, tapi ia bukan asisten rumah tangga biasa. Ia pernah belajar di Oxford. Caranya bekerja dan berpikir pun layak diacungi jempol. Lucy ini orangnya cerdas, penuh totalitas dalam bekerja, dan sangat efisien dalam bekerja.

Lucy pun melakukan “penyamarannya”. Ia bekerja sebagai asisten rumah tangga di salah satu rumah di Rutterford Hall. Nah dalam pekerjaan sebagai asisten rumah tangga itulah Lucy mulai menemukan mayat si wanita yang dibunuh. Kerja sama Lucy dan Ms. Marple membuahkan keberhasilan. Polisi pun mulai berdatangan untuk mengungkap kasus ini. Secara keseluruhan, novel ini bercerita tentang proses polisi (dibantu Lucy dan Ms. Marple tentunya) dalam mengungkap kasus pembunuhan tadi.

Kisah ini kian menarik sebab dalam proses mengungkap kasus tadi, ada dua orang lagi yang terbunuh. Dua orang ini dibunuh dengan cara diracun. Pembunuhnya masih orang yang sama dengan pembunuh si wanita di kereta.

Hal Menarik dari Novel Ini

Ada banyak hal menarik yang bisa kita temukan saat membaca karya Agatha Christie. Salah satu alasan kenapa saya suka membaca karya Agatha adalah novel ini berlatar kejadian puluhan tahun lalu (mulai dari awal abad 20 sampai pertengahan abad 20). Kejadian dalam novel ini pun terjadi jauh sebelum kita mengenal internet, sebelum kita tahu Google, smartphone, dan lain sebagainya.

Alhasil membaca novel ini membuat kita seolah kembali pada tahun 1940 – 1950an. Kita bisa lihat bagaimana budaya yang hidup pada zaman itu, bagaimana cara orang masa itu bersikap, dan bagaimana kebiasaan mereka.

Dari segi cara penulisan, novel ini juga layak diacungi jempol. Alurnya cepat dan penuh petualangan. Ketika membaca, seolah kita tak sabar untuk terus membaca, membalik ke halaman berikutnya. Usai membaca novel sebagus ini pun muncul perasaan sedih. Sedih karena apakah saya bisa menemukan lagi novel semenarik ini. 🙁

Dan yang paling saya sukai adalah akhir novel yang tak terduga. Prediksi saya tentang siapa si pembunuh justru terpatahkan. Beberapa tokoh yang awalnya saya curigai justru bukan si pembunuh. Agatha amat piawai “menyesatkan” dugaan pembacanya. Motif pembunuhannya pun cukup sulit untuk ditebak. Ya memang motifnya berkaitan dengan harta warisan, tapi motif detailnya amat sulit untuk ditebak.

Tokoh Favorit Saya ialah…

Tentu tokoh yang paling saya sukai adalah Ms. Marple. Kehadiran Ms. Marple menjadi daya tarik dalam karya Agatha Christie. Hanya saja, khusus untuk novel 4.50 from Paddington, tokoh favorit saya adalah Lucy Eyelesbarrow. Bahkan saya jatuh cinta dengan tokoh ini.

Ilustrasi tokoh Lucy.
Ilustrasi tokoh Lucy.

Lewat dialog-dialog tokoh dan narasi novel ini saya membayangkan betapa sempurnanya Lucy. Ia digambarkan sebagai wanita yang mandiri, penuh totalitas dalam bekerja, sopan, cerdas, dan pastinya begitu cantik. Tak hanya itu, membayangkan adegan ketika Lucy sedang bekerja membuat saya kian jatuh hati. Bagaimana cara Lucy menghadapi Alexander (tokoh anak kecil–sekitar usia SD mungkin–dalam novel ini) membuat saya amat tertarik. Adegan ketika Lucy dengan tulus mengurus keluarga Crackenthorpe, saat Lucy menyiapkan makan malam, mengurus rumah tangga, dsb. Singkatnya, Lucy ini bagaikan seorang istri yang amat ideal.

Dan betapa bahagainya ketika di akhir novel, tampaknya Lucy akhirnya mendapatakan pasangan yang ideal.

Nilai Untuk Novel Ini

Saya memberi nilai 9 untuk novel ini. Bintang 5 layak disematkan pada novel ini.

Sungguh luar biasa Agatha Christie menulis novel ini. Jalan ceritanya menarik, cepat, dan penuh hal tak terduga. Begitu sampai di akhir cerita, saya bahkan tak menduga ending-nya akan seperti apa. Benar-benar mengagetkan. Sungguh tak terduga siapa si pembunuh.

Ditambah lagi, karakter-karakter dalam novel ini juga amat menarik. Kehadiran Ms. Marple jelas menjadi salah satu daya tarik utama novel ini. Ditambah lagi hadirnya karakter seperti Lucy yang sangat unik. Baru kali ini saya mengetahui seorang asisten rumah tangga yang amat luar biasa kerjanya. Tentu saja, Lucy dibayar dengan pantas. Penghasilan Lucy tak kalah dengan pekerja profesional lainnya.

Selain itu, karakter-karakter lainnya pun tak kalah kuat. Masing-masing karakter punya daya tarik tersendiri. Mulai dari anak-anak Mr. Crackenthorpe, Inspektur Craddock, Dokter Quimper, dan lainnya.

Intinya, jika Anda sedang mencari novel seputar pembunuhan/kriminal, atau Anda ingin membaca sambil melatih kemampuan Anda menebak sebuah kasus, maka novel ini sangat layak untuk Anda baca.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *