obral buku di Gramedia

Obral Buku : Berkah atau Musibah?

Obral buku, fenomena yang cukup sering dijumpai di Indonesia. Suatu fenomena ketika toko buku/distributor mengobral buku mereka secara gila-gilaan. Ribuan buku ditumpuk dalam satu gunungan, atau tumpukan, lalu buku tersebut dibiarkan agar diserbu orang-orang.

Orang-orang bebas memilih mana buku yang ingin ia beli. Mereka bisa memborong sepuas mereka.

Lantas, obral buku iniΒ  berkah atau justru musibah? Mari kita ulas.

Berkah Bagi Pembaca

Dari sudut pandang seorang pembaca, obral buku jelas merupakan berkah. Kenapa? Karena lewat ajang obral buku, kita bisa mendapatkan banyak buku bagus dengan harga yang sangat-sangat terjangkau.

Bayangkan, saya pernah mendapatkan buku fotografi (full colour) setebal sekitar 200 halaman, hanya dengan 10.000 Rupiah. Lebih murah dari sepiring nasi goreng.

Lantas, apakah buku-buku yang diobral itu buku-buku tidak berkualitas?

Tidak, saya sering menjumpai buku-buku bagus saat obral buku. Bahkan, beberapa buku obral jauh lebih bagus dibandingkan buku-buku yang dengan mudahnya kita jumpai di toko buku.

Kualitas sebuah buku tidak selalu ditentukan oleh harga atau tempat buku tersebut, tetapi juga ditentukan oleh si penulis bukunya. Kalau penulisnya bagus, maka pasti bukunya juga bagus. Buku-buku berkualitas tidak selalu laris manis. Banyak buku yang biasa-biasa saja (bahkan tidak bagus) yang justru laris. Ini terjadi karena marketing yang gencar dari si penulis ataupun toko buku.

Salah satunya, saya pernah membaca buku We are All Weird dari Seth Godin. Seth Godin ini penulis yang cukup terkenal, bukunya bagus, tapi bukunya saya dapatkan justru saat obral buku πŸ™‚ (Anyway, Anda bisa baca review buku We are All Weird di sini.)

Jika Anda cukup jeli dan mau meluangkan waktu, maka ajang obral buku dapat Anda jadikan sebagai kesempatan meraih banyak buku bagus dengan harga yang murah. Bermodalkan uang 100 ribu kadang kita bisa meraup 6 – 9 buku bagus. Keren kan? Biasanya 100 ribu paling cuma bisa buat satu atau dua buku.

Kenapa Bisa Terjadi Obral Buku?

books
Ada banyak hal yang bisa menyebabkan terjadinya obral buku. Bisa jadi marketing dari si penulis yang kurang gencar, keterbatasan sumber daya toko buku, dan banyak faktor lain.

Buku tidak laku. Inilah penyebab utama. Kalau sebuah buku laris manis, maka buku tersebut tidak mungkin diobral. Karena sebuah buku tidak laku, maka akhirnya stok buku tersebut menumpuk di gudang toko buku. Nah, oleh toko buku, daripada buku tadi menumpuk, lebih baik buku tersebut dijual murah saja. Sebab harus ada buku baru lain yang masuk ke gudang.

Kenapa sebuah buku bisa tidak laku?

  • Bisa jadi karena pemasaran yang kurang gencar dari si penulis. Suatu kesalahan jika penulis berpikir setelah buku terbit maka semua urusan selesai. Terbitnya buku kita baru sebuah langkah awal, kita masih harus mempromosikan buku tersebut. Ingat, sumber daya toko buku dan penerbit itu terbatas. Alhasil, mau tidak mau, si penulis juga harus bertanggung jawab untuk pemasaran bukunya. Media internet termasuk salah satu media yang dapat kita gunakan untuk menunjang promosi buku.
  • Bisa jadi karena terbatasnya ruang di toko buku. Dalam satu bulan, sebuah penerbit besar bisa menerbitkan puluhan (bahkan ratusan judul buku). Semua buku tadi tentu harus dijual di toko buku. Namun, berapa sih luas toko buku di Indonesia? Bahkan jika Anda berkunjung ke Gramedia, Anda akan melihat bahwa hampir (atau bahkan lebih) dari separuh Gramedia justru dipakai untuk menjual produk lain (seperti alat musik, alat tulis, DVD, dan hal-hal lain). Karena terbatasnya ruang, maka umur sebuah buku di toko pun makin berkurang. Jika dalam beberapa bulan (misal : 3 bulan) sama sekali tak ada penjualan terhadap sebuah buku, maka sudah pasti buku tersebut akan ditarik dari toko buku.
  • Daya beli masyarakat yang tidak tertuju pada buku. Tak bisa dipungkiri, minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Berdasarkan data toko Gramedia yang dikutip dari Ikapi, sepanjang 2013 total buku yang terjual di Indonesia hanya 33.199.557. Dari sekitar 250 juta penduduk, buku yang laku hanya 33 juta’an. Itu artinya satu buku dibaca oleh 8 orang selama setahun. Rendah sekali bukan? Akibat rendahnya minat baca ini, maka tak mengherankan jika buku bukanlah kebutuhan sebagian besar orang Indonesia. Lebih ramai mana, toko buku atau kedai Starbucks? Lebih ramai mana, pengunjung KFC/McD dengan pengunjung toko Gramedia?

Masih seputar apresiasi masyarakat, saya jadi teringat kata-kata yang ditulis oleh Eric Weiner dalam bukunya, The Geography of Genius. Apa yang dihargai suatu bangsa, maka itulah yang akan tumbuh di bangsa tersebut. Contoh, jika sebuah negara menghargai pertunjukan seni, maka seni negara tersebut akan maju. Mozart, Leonardo da Vinci, dan seniman/pencipta hebat lainnya bisa begitu dahsyat karena masyarakat mengapresiasi karya mereka. Mozart tidak mungkin dikenal jika tak ada satu pun orang yang mau mendengarkan musiknya.

Sama halnya dengan buku, tingkat literasi Indonesia tak akan maju jika masyarakat tak rela mengapresiasi karya-karya penulisnya. Lionel Messi dan Ronaldo bukan siapa-siapa jika dunia tak suka dan tak peduli pada sepak bola.

Bagi Penulis, Bisakah Obral Buku Menjadi Berkah?

Dari sudut pandang penulis, bisakah obral buku menjadi sebuah berkah?

Memang sulit ya, sudah bukunya tak laku, lalu diobral, berkah macam apa yang bisa dipetik penulis?

Tapi jangan berkecil hati, ajang obral buku tetap punya manfaat bagi si penulis.

Jadikanlah buku bukan sebagai ajang cari uang. Kalau mau cari uang, jangan hanya gunakan buku, tapi gunakanlah medium-medium lain (seperti workshop, pelatihan, jasa konsultan, ataupun produk-produk lainnya). Jadikan buku lebih sebagai kartu nama/sarana promosi.

Artinya apa?

Artinya ketika buku Anda masuk dalam buku obral, jadikan ajang tersebut sebagai sarana promosi. Ketika orang-orang menemukan buku Anda, mereka baca, lalu mereka akan tahu seberapa berkualitas buku Anda. Ketika mereka tahu kualitas Anda, mereka akan suka, lalu tertarik baca buku Anda yang lainnya.

Jadi, jika suatu saat Anda merilis buku, ataupun Anda punya produk lainnya, pembaca tadi akan lebih aware terhadap produk/buku Anda yang lainnya.

Yang paling penting adalah jadikan buku sebagai sarana menggiring leads ke website/produk-produk Anda yang lainnya. Jadikan semua pembaca mengunjungi web Anda atau menjadi pengikut Anda di media sosial. Jika ini terjadi, maka Anda dapat memanfaatkan web ataupun media sosial untuk merangkul pembaca tadi.

Manfaatkan buku sebagai kartu nama. Gunakan buku untuk promosi akun media sosial/website Anda.
Manfaatkan buku sebagai kartu nama. Gunakan buku untuk promosi akun media sosial/website Anda.

Dengan demikian, kita sebagai penulis tidak rugi-rugi amat, sebab kita masih dapat promosi secara gratis. πŸ™‚

Akhir kata, yang paling penting bukanlah masalah apa yang kita jumpai, melainkan bagaimana kita menyikapi masalah tersebut. Jadi, sekalipun obral buku merupakan sebuah masalah, maka selagi kita menyikapinya dengan positif, kita tetap mampu menjadikan hal tersebut sebagai sebuah berkah.

Semoga menginspirasi,

Jefferly Helianthusonfri

 

2 comments

  1. Mau bertanya tentang mengapa minat membaca rendah di Indonesia dikatakan rendah berdasarkan hasil penjualan buku yang rendah. Apakah ada hasil penelitian yang mendukung? Membaca buku jaman sekarang sepertinya tidak harus membeli dari toko buku. Banyak pelajar memanfaatkan perpustakaan daerah, meminjam teman, membaca dari koleksi kerabat/sesepuh yang begitu banyak, menyewa di rental, download e-book entah gratis atau berbayar pun sekarang memungkinkan, oiya jangan lupa adanya mesin foto copy sang pencetak yang bertebaran di Indonesia. Buku juga bukan sesuatu yang bersifat sekali habis setelah dibaca lain halnya dengan makanan atau minuman. Jadi saya benar-benar penasaran tentang keterkaitan minat rendah dengan daya beli rendah terhadap buku. Lagipula, buku itu lebih mahal daripada makanan sehari-hari. saya pun perlu menabung untuk membeli buku dalam jangka waktu tertentu, dan bahkan berburu buku gratis bila memungkinkan. Mudah2an penulis mau berbagi kalau menemukan jawaban ‘darimana kita tahu minat baca masyarakat Indonesia rendah’ yang lainnya, karena saya juga penasaran mengenai “pemberian rangking” dalam kegiatan membaca ini. salam πŸ™‚

    1. Halo Alfath, senang sekali atas komentar yang kamu berikan. Terima kasih atas komentarnya. Memang untuk “minat baca Indonesia yang rendah”, pernyataan tersebut saya dasarkan pada data tingkat penjualan buku di Indonesia.

      Memang pernyataan tadi punya kekurangan dan tidak bisa dipakai untuk generalisasi. Sebab daya beli buku yang rendah mungkin belum tentu menggambarkan minat baca yang rendah. Saya juga setuju bahwa ada banyak faktor lain yang mempengaruhi daya beli buku (seperti yang sudah kamu sebutkan).

      Lagi-lagi, pendapat saya tadi cenderung bersifat commonsense dan sekadar penggambaran. Untuk pembuktian secara ilmiah, tentu dibutuhkan penelitian yang sesungguhnya.
      Saya sendiri belum menemukan penelitian komprehensif tentang minat baca ini. Mungkin sudah ada yang meneliti, tapi saya belum menemukan hasil penelitiannya. Atau justru memang belum ada sama sekali?

      Hal ini sekaligus jadi masukan untuk saya, untuk lebih dalam menggali data dan hasil penelitian. Mudah-mudahan kedepannya kita bisa menemukan hasil penelitian tentang minat baca tersebut. πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *