Mengatasi Kutukan Menulis ala Dee Lestari

Dee Lestari, penulis satu ini mungkin sudah tidak asing di telinga Anda.

Bagi mereka yang sudah membaca serial Supernova, Perahu Kertas, atau Filosofi Kopi, pasti tahu betul bagaimana karya Dee Lestari.

Dee Lestari cukup aktif menulis blog. Di blog yang beralamat di www.DeeLestari.com itu, Dee menulis banyak hal. Termasuk sesekali Dee juga menjawab pertanyaan pembaca melalui posting khusus. Sebelum menulis posting ini, saya membaca posting terbaru di blog Dee. Posting tersebut seputar mengatasi kutukan menulis.

Kutukan menulis seperti apa?

Bagi Anda yang pernah menulis, atau justru sering menulis pasti sering menjumpai “kutukan” semacam ini.

Anda sedang begitu semangat menulis, tapi kemudian bingung harus menulis apa. Atau Anda sedang mengerjakan suatu tulisan, tapi di tengah jalan Anda seolah ingin berhenti dan bingung apakah tulisan Anda bagus atau tidak.

Kutukan-kutukan tadi seakan menyulitkan kita untuk menjadi seorang penulis. Lantas, bagaimana cara mengatasi kutukan semacam itu? Berikut ulasan selangkapnya.

1. Sadari Bahwa Tidak Ada “Kutukan” yang Ada Hanya Fenomena Biasa

Ya, tidak ada yang namanya kutukan menulis. Kita bingung harus menulis apa, kita ragu tulisan kita bagus atau tidak, itu semua adalah fenomena yang lazim dialami oleh semua penulis. Kendati jam terbang kita sudah tinggi pun, terkadang kita akan mengalami hal tersebut.

Saya sudah menulis lebih dari 33 buku, dan sesekali juga bingung harus menulis apa. Oleh karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah sadari bahwa hambatan yang kita temui saat menulis adalah sesuatu yang wajar.

Yang bisa saya bantu adalah memperjelas satu hal terlebih dulu: fenomena itu BUKAN kutukan menulis, melainkan BAGIAN dari proses menulis yang PASTI terjadi. So, terimalah dengan lapang dada. Berharap bahwa tulisan kita akan langsung keren dan terus keren selama-lamanya adalah ilusi nomor satu yang harus dienyahkan sekarang juga,” tulis Dee dalam postingnya.

2. Kurangi Membaca Ulang, Selesaikan Dulu Draf Pertama Anda

kurangi-membaca-ulang-draft-pertama

Kita sering membaca ulang tulisan kita saat sedang menulis. Semua penulis yang baru memulai pasti melakukan hal ini. Saya pun juga melakukan hal ini.

Jika tak percaya, cobalah lihat saat anak SMA sedang mengerjakan makalah mereka. Atau ketika mahasiswa sedang membuat laporan tugas. Baru beberapa kalimat, mereka pasti akan membaca kembali tulisannya.

Dee menyarankan agar kita mengurangi hal ini. Sebab membaca ulang akan membuat kita menyadari betapa banyaknya kekurangan dalam draf pertama kita.Ketika kita melihat banyaknya kekurangan tadi, kita bisa minder, lalu akhirnya memilih mundur. Jika kita mundur, maka draf pertama tak akan selesai.

Sayangnya, draf pertama adalah sesuatu yang harus kita selesaikan. Tanpa adanya draf pertama, kita tidak akan bisa jadi penulis.

Draf pertama tercipta untuk dibantai dan dimaki-maki, tapi tanpa kehadirannya, titel “Penulis” selamanya menjadi angan-angan. Jadi, berjuanglah untuk tiba di sebuah draf pertama,” tulis Dee.

3. Miliki Komitmen

menerima kenyataan bahwa seringkali sebuah karya tidak selesai bukan karena idenya buruk atau kurang keren, melainkan karena kita tidak punya komitmen cukup untuk menyelesaikannya,” itulah kata Dee.

Sebuah karya tidak selesai bukan karena buruknya ide, atau jeleknya cerita, melainkan karena kurangnya komitmen si penulis. Sebagus apapun ide Anda, kalau Anda tidak memiliki komitmen untuk mewujudkannya, maka karya tak akan pernah terwujud.

Jadi, ketika Anda menjumpai “kutukan-kutukan” di tengah perjalanan Anda sebagai penulis, ingatlah komitmen, tetaplah melangkah, dan selesaikan draf pertama Anda.

Tadi disebutkan bahwa, yang paling penting menyelesaikan draf pertama. Draf pertama pasti kurang bagus, selalu butuh peningkatan. Lantas, kapan memperbaiki semua kekurangan tadi?

Perbaikan dilakukan saat proses revising. Jika kita adalah penulis buku non fiksi, maka draf pertama yang sudah jadi akan masuk ke proses revisi. Kita akan membaca ulang draf tersebut, selanjutnya melakukan revisi pada sejumlah bagian.

Sedangkan bagi penulis fiksi, menurut saya, perjuangannya agak sedikit lebih berat. Kenapa? Karena tugas penulis fiksi adalah menyajikan cerita yang menarik, dahsyat, dan harus menyentuh pembacanya. Tentu pekerjaan ini tidak mudah. Para penulis fiksi juga akan melakukan revisi terhadap draf pertamanya. Bahkan, kadang mereka harus melakukan penulisan ulang di sejumlah bagian guna menjahit cerita yang sangat bagus.

Jika beberapa revisi sudah dilakukan, maka draft kita akan selesai. Belum cukup sampai di situ, kita masih akan melakukan proses editing. Pada proses editing, kita akan menyunting tulisan kita. Memperbaiki kesalahan kata, menajamkan kalimat, dan lain sebagainya.

Intinya, akan selalu ada ruang peningkatan. Yang paling penting selesaikan draft pertama, lalu baru lakukan perbaikan. Bahkan ketika buku kita sudah terbit pun akan ada banyak hal yang harus kita tingkatkan.

Semoga menginspirasi.

Mari berteman dengan Filobuku di Facebook, klik : Facebook Filobuku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *