Ingin Memprediksi Masa Depan? Baca Buku The Next 50 Years

Kira-kira dunia di tahun 2050 akan seperti apa ya?

Apakah banyak pulau-pulau yang tenggelam?

Apakah makin banyak manusia bisa hidup sampai usia 100 tahun lebih?

Pertanyaan menarik semacam inilah yang (mungkin) bisa dijawab jika Anda membaca buku The Next 50 Years. Sebuah buku yang ditulis oleh Richard Watson.

Berikut ulasan saya mengenai buku yang oleh Publisher Weekly disebut “provokatif”.

Gambaran Isi Buku

Cover buku The Next 50 Years (sumber gambar : Joko Prayitno – http://olx.co.id/all-results/user/1tLJ/).

Secara umum, The Next 50 Years adalah buku yang mengupas berbagai tren yang akan terjadi dalam 50 tahun mendatang. Buku ini ditulis sekitar tahun 2006/2007. Alhasil, prediksi yang dibuat si penulis adalah apa saja yang akan terjadi hingga sekitar tahun 2050-an. Tren-tren dan perubahan yang dibahas antara lain tren dalam dunia bisnis, transportasi, politik, budaya, makanan, kesehatan, dan banyak lagi.

Tampaknya, isi buku ini ditulis berdasarkan imajinasi dan data yang diolah oleh sang penulis. Ia mengambil beberapa fenomena yang sudah mulai terjadi. Misalnya tentang fenomena web UGC (User Generated Content) yang sudah mulai muncul bibit-bibitnya sejak awal 2000-an. Salah satunya, Wikipedia yang sudah diluncurkan sejak tahun 2001.

Terbukti, apa yang ditulis dalam buku ini tampak “cukup” masuk akal. Tak hanya itu, karena saya membaca buku ini di tahun 2017, saya sudah mengalami sebagian apa yang diprediksi oleh Richard Watson. Misalkan, Watson memprediksi bahwa di masa depan akan makin sering terjadi fenomena ride sharing. Terbukti sejak tahun 2015, orang-orang Indonesia (terutama di kota besar) kian terbiasa memakai aplikasi transportasi online seperti Gojek, Uber, ataupun Grab. Well meskipun aplikasi-aplikasi tadi tidak bisa disebut ride sharing sih.

Watson mengemas buku ini dengan menarik. Di setiap akhir bab, ia selalu membuat rangkuman tentang tren-tren besar apa saja yang akan terjadi. Hadirnya rangkuman ini cukup membantu pembaca. Tak hanya itu, ia juga kerap menyelipkan cerita pendek yang berisi ilustrasi kejadian di masa mendatang. Misalkan ia menuliskan cerita tentang bagaimana kira-kira orang di masa depan menerima hadiah/kartu ulang tahun, bagaimana orang di masa depan berbelanja online yang serba canggih, dan banyak lagi.

Seperti Apa Tren dalam 50 Tahun Mendatang?

Apa yang ditulis oleh Watson berupa prediksi. Artinya, belum tentu dunia masa depan akan seperti yang ada dalam kepala Watson. Bisa saja terjadi banyak perubahan. Namun apa Watson sampaikan cukup masuk akal dan kita sudah mengalami sebagian hal tersebut di tahun 2017-an ini.

Berikut beberapa intisari yang saya petik mengenai tren-tren di masa depan.

  • Munculnya dua kubu, yakni mendukung globalisasi atau lokalisasi, mendukung kemajuan teknologi atau “rindu” pada teknologi masa lampau. Akan ada golongan yang sangat pro terhadap kemajuan teknologi, mereka merasakan sensasi luar biasa dari kemajuan teknologi. Namun ada pula yang justru “rindu” pada teknologi masa lampau. Menurut golongan ini, kemajuan teknologi telah memisahkan mereka dari kehidupan yang sebenarnya. Di sisi lain, ada pula yang sangat mendukung globalisasi, namun ada pula yang merindukan cita rasa lokal. Misalkan tentang pilihan makanan, diprediksi bahwa banyak orang akan merindukan ciri khas lokal mereka. Misalkan mereka maunya membeli makanan yang diproduksi oleh petani lokal, makan masakan lokal, dan lain sebagainya.
  • Tren proteksionisme yang mulai bermunculan. Dari sisi politik,penulis juga memprediksi bahwa akan banyak terjadi kebijakan politik proteksionisme. Terbukti, di tahun 2016 mulai jadi kenyataan. Fenomena Brexit dan terpilihnya Donald Trump membuktikan bahwa ada cukup banyak orang yang mendukung kebijakan proteksionisme.
  • Internet of things dan big data akan sangat diandalkan. Akan makin banyak manusia dan perangkat yang terkoneksi dengan internet. Mobil kita, rumah kita, kulkas, dan benda-benda lain kemungkinan besar akan tekoneksi dengan internet. Dengan demikian, benda-benda tadi dapat bertukar data satu sama lain. Bayangkan kalau ada kulkas yang bisa memesan makanan sendiri ketika stok makanan Anda habis. Tentu saja, pertukaran data tadi akan menyebabkan banyak hal menjadi terprediksi. Penggunaan big data pasti akan kian terasa. Supermarket bisa tahu apa saja produk-produk yang Anda sukai, mereka bisa memberikan penawaran spesial (bakan secara real time) sesuai kebutuhan Anda. Industri asuransi juga bisa memantau kebiasaan Anda lewat jejak-jejak data yang Anda hasilkan. Mereka bisa tahu profil risiko Anda dari data-data yang Anda hasilkan. Misalkan dari perilaku belanja Anda, makanan yang Anda konsumsi, dan lain sebagainya.

  • Revolusi atas industri-industri yang sudah ada. Dengan pesat dan dahsyatnya kemajaun teknologi, industri yang sudah mapan pasti akan tergoncang. Contoh, dalam bidang kesehatan, diprediksi manusia bisa berumur lebih panjang. Kenapa? Karena akan ada banyak kemajuan dalam bidang kesehatan. Mulai dari tentang makanan yang bisa disesuaikan dengan karakteristik tubuh kita, penggunaan nanotekologi, dan banyak lagi. Tentu kemajuan ini pasti berpengarh pada industri yang saat ini sudah mapan. Apapun industri yang Anda tekuni, pastikan Anda bersiap. Jadi, bagi kita yang mungkin masih hidup setidaknya 50 tahun lagi, bersiaplah untuk turbulensi besar yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Oh, bukankah ini mengasyikkan? 🙂

Selain beberapa tren yang sudah saya sebutkan, masih ada banyak tren lain yang dibahas oleh Richard Watson.

Bagaimana Meyikapi Hal-Hal Di Atas?

Saya memilih untuk menyikapi hal-hal di atas dari sudut pandang bisnis. Dari sudut pandang bisnis, tentu kemajuan-kemajuan tadi akan melahirkan turbulensi yang amat kuat. Akan terjadi goncangan di sana-sini. Banyak sekali industri yang akan terpengaruh. Apa yang kita kerjakan selama ini bisa jadi berubah dan terevolusi.

Misalkan untuk industri perbankan, Fintech (financial technology) tampaknya akan makin tumbuh subur dan bisa menggeser industri perbankan yang sudah mapan. Belum lagi di industri retail. Kehadiran internet of things dan penerapan big data tentu akan menjadikan industri retail kian berwarna. Cara kita belanja akan berubah.

Dari sudut pandang bisnis, tentu kita harus bersiap dengan hal tersebut. Poin yang saya tawarkan adalah jadilah orang yang adaptif, terima segala sesuatu dalam kadar yang wajar. Kita tak perlu menolak kemajuan yang ada, sebab perubahan pasti terjadi. Namun kadang, kalau kita merindukan romantisme masa lalu, nikmati itu dalam batas wajar. Tugas kita adalah untuk tidak tergilas roda perubahan. Bertemanlah dengan perubahan, terima itu sebagai suatu keniscayaan.

Sejujurnya saya agak prihatin dengan adanya penolakan terhadap kemajuan yang terjadi. Misalkan demo menolak transportasi online. Termasuk juga kepada pemerintah yang cenderung membuat regulasi yang menghambat kemajuan. Kasarnya, bisnis lu turun, pendapatan lu berkurang, ya itu karena lu yang nggak adaptif. Kalau lu mau bertahan, ya adaptasi, hadirkan sesuatu yang lebih baik.

Sering saya ngobrol dengan sopir taksi. (Meskipun saya pro terhadap transportasi online, kadang saya masih naik taksi). Ketika ngobrol, saya melihat betapa model bisnis taksi konvensional ini tidak efisien. Bayangkan, seorang sopir taksi harus bekerja banting tulang seharian demi mengejar pendapatan sekitar 500 ribu sehari. Dari 500 ribu itu, hampir separuhnya harus diberikan ke perusahaan taksi. Kira-kira, (seingat saya) dalam sehari mereka bisa setor 200 – 250 ribu untuk perusahaan. Sisanya? Masih harus dikurangi ongkos bensin. Jadi bersihnya? Dalam sehari, rata-rata sopir yang saya ajak ngobrol bisa membawa pulang 100 – 200 ribu. Mereka bekerja belasan jam per hari, hanya dapat 100 – 200 ribu.

Terus kapan waktu untuk keluarganya? Kapan waktu untuk belajar skill barunya? Kalau begini, terus, gimana bisa kaya? Terus kalau kondisi finansial sulit, lalu menyalahkan pemerintah atau pelaku bisnis lain? 🙂

Saya sadar posisi mereka. Kalau saya di posisi mereka, saya pasti juga akan kesulitan. Inilah sulitnya jika kita terjebak dalam sistem “lingkaran setan”. Logika kita akan kalah dengan emosi. Kalau mau lebih bebas secara finansial, ya manfaatkan peluang yang ada, tingkatkan skill menghasilkan uang Anda. Rezeki tidak hanya dari perusahaan taksi.

Tapi kalau mereka keluar dari pekerjaan, coba peluang baru, siapa yang akan memberi nafkah keluarga mereka? Cicilan gimana?

Ya itu tadi, kompleksnya kehidupan yang justru bisa menghambat mereka sendiri. Itu tanggung jawab mereka. Kata Cak Lontong, mikir…

Namun di sisi lain, kadang saya juga merindukan sedikit romantisme masa lalu. Misalkan kemajuan teknologi yang begitu pesat ini, membuat komunikasi kita jadi amat mudah. Saya membayangkan, bagaimana kalau sekali-kali, kita dengan gebetan kita, pasangan kita, atau, sahabat jauh berkomunikasi lewat surat. Sebuah surat di kertas putih dengan tinta biru, beramplop merah jambu, dan dibalut sekeping rindu.

Berapa Nilai Untuk Buku Ini?

Saya memberi nilai 8,5 untuk buku ini.

Dari sekian banyak buku yang sudah saya baca, The Next 50 Years termasuk buku yang menyegarkan. Mengingatkan kita tentang pentingnya perpesktif baru, tentang perubahan yang terjadi di sekitar kita. Saya sangat merekomendasikan Anda untuk membaca buku ini.

Jika melihat review-review di Goodreads, ada cukup banyak kritik atas buku ini. Mulai dari kritik bahwa penulisnya kurang berhasil mempertahankan ketertarikan pembaca, terlalu kompleksnya pembahasan, dan banyak lagi. Namun secara umum, rating buku ini di Gooodreads cukup baik, yakni 3,42 (data pada 9 April 2017).

Menurut saya, hal-hal tadi lebih kepada faktor pembaca/subjektivitas pembaca. Betul bahwa selera dan preferensi setiap orang berbeda-beda. Namun saya menganggap buku ini sebagai salah satu tambahan perspektif. Buku ini bisa menawarkan  alternatif cara berpikir guna membantu kita meyambut masa depan. Tentu ada banyak alternatif lainnya. Secara tidak langsung, tambahan perspektif tadi bisa membantu kita untuk menjadi aktor yang membentuk masa depan.

Apa yang disampaikan Watson belum tentu terjadi (bahkan bisa berbeda jauh), tapi inspirasi yang ia hadirkan bisa menginspirasi kita kok. 🙂

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *