Mau Bikin Video yang Menarik? Coba Pelajari Buku Ini

Buku yang akan saya review kali ini berjudul How to Shoot Video That Doesn’t Suck. Buku ini adalah buku panduan videografi yang ditulis oleh Steve Stockman.

Bagi Anda yang tertarik dengan dunia videografi, ingin belajar cara pengambilan gambar, maka buku ini cocok untuk Anda baca. Berikut review selengkapnya.

Gambaran Isi Buku

How To Shoot Video That Doesn’t Suck adalah buku yang berisi panduan mengambil gambar yang menarik. Buku ini membantu para pemula belajar proses produksi video. Usai membaca buku ini, pembaca akan memiliki mindset seorang videografer, seorang yang bisa membuat video secara menarik.

Semua orang bisa mengambil gambar, tapi belum tentu gambar tersebut menarik. Kita dikelilingi banyak teknologi. Bahkan bermodalkan sebuah handphone pun kita sudah bisa merekam video. Namun, apakah video tersebut menarik? Belum tentu.

Buku ini  tidak membahas aspek teknis, melainkan lebih kepada aspek nonteknis. Tujuan utama si penulis adalah menjadikan pembaca mampu berpikir layaknya seorang sutradara yang mahir menghasilkan video yang menarik. Kamu tidak akan menjumpai pembahasan tentang cara menggunakan kamera, cara mengedit video, cara menambahkan efek pada video, atau lainnya. Yang akan kamu jumpai adalah cara berpikir agar mampu membuat video yang menarik.

Buku ini terbagi menjadi beberapa bagian, di antaranya:

  • Berpikir seperti seorang sutradara. Bagian ini berisi 10 bab, pembaca diajak untuk memiliki mindset seorang sutradara. Tenang, dalam buku ini tiap babnya hanya terdiri dari beberapa halaman.
  • Rahasia para profesional. Di bagian ini, Steve mengajak pembacanya mengetahui rahasia yang digunakan oleh para profesional dalam membuat video yang menarik. Salah satu rahasia yang dikuak adalah persiapan sebelum membuat video. Sebelum membuat video, kita harus benar-benar merencanakan video yang akan diproduksi.
  • Mengeset panggung. Berisi pembahasan seputar pengaturan panggung agar video Anda menarik. Panggung yang dimaksud di sini lebih kepada lokasi pengambilan gambar video Anda.
  • Cara membuat video yang tidak membosankan. Di bagian ini ada 24 bab. Yang mana bab-bab tersebut membahas seputar teknik-teknik pengambilan gambar agar video Anda menarik.
  • Proyek khusus dan cara mengambil gambarnya. Bahasan di bagian ini lebih kepada studi kasus untuk pengambilan gambar. Khususnya pengambilan gambar yang mungkin akan sering dilakukan, seperti pengambilan gambar video liburan, video pernikahan, video produk, video wawancara dan testimoni, dan lain sebagainya.
  • Setelah pengambilan gambar. Bagian ini membahas tentang apa yang harus dilakukan jika kamu sudah mengambil gambar.
  • Merampungkannya. Bagian terakhir dari buku ini, membahas tentang apa yang dilakukan jika kamu sudah berhasil memproduksi video.

Buku ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris pada tahun 2011. Saya membaca versi bahasa Indonesia dari buku tersebut.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Ini

Kekurangan buku ini adalah tidak membahas soal teknis. Kita tidak akan mejumpai panduan seputar kamera, panduan editing, atau panduan teknis lainnya. Jadi, jika kamu ingin benar-benar videografi secara menyeluruh, kamu akan tetap memerlukan buku lainnya, khususnya buku yang berisi tutorial penggunaan kamera ataupun tutorial editing.

Selain itu, buku ini juga lebih ditujukan untuk kalangan pemula dan menengah. Saran-saran yang diberikan termasuk saran-saran dasar. Target pembaca buku ini memang untuk kalangan pemula.

Kelebihan buku ini adalah berisi panduan, tips, dan kiat-kiat praktis. Dengan kata lain, jika kamu sudah punya kamera (entah DSLR, kamera handphone, atau lainnya), kamu bisa langsung praktik. Bawa dan gunakan kameramu, lalu terapkan teknik-teknik yang sudah dibahas di buku ini. Dijamin kamu akan mampu memproduksi video yang menarik.

Selain itu, bahasa yang dipakai di buku ini cukup santai, mengalir, dan enak dibaca. Kalaupun kita masih awam dalam hal produksi video, kita tetap bisa mengikuti bahasan di buku ini.

Tak ketinggalan, Steve juga kerap menyajikan sisi humor dalam bahasan bukunya. Contoh-contoh yang ia berikan, kalimat yang ia pakai, kerap mengundang tawa atau senyum. Setidaknya kamu bisa tersenyum ketika menikmati sajian dalam buku ini.

Sebagai bocoran, inilah sejumlah kiat pengambilan gambar agar video kita menarik.

  • Pikirkan setiap potongan gambar. Intinya, kamu harus tahu gambar apa yang hendak kamu ambil. Plus, ketahui juga alasan mengapa gambar tersebut menarik. Jangan sembarangan mengambil gambar, tapi pastikan kamu sudah punya perencanaan video.
  • Tiap kali megambil gambar manusia, upayakan merekam matanya. Agar gambar kita menarik, pastikan kamu merekam ekspresi wajah tokoh dalam video. Nah, salah satu caranya adalah dengan merekam mata tokoh. Gambarmu pasti akan lebih ekspresif.

  • Selalu ambil gambar dengan durasi di bawah 10 detik. Tujuannya supaya gambar kamu tidak terlalu lama dan membosankan. Steve menyarankan kita memakai klip-klip video dengan durasi yang relatif singkat (tidak lebih dari 10 detik).
  • Menge-zoom dengan kaki. Steve menyarankan agar kita melakukan zooming memakai kaki. Maksudnya adalah ketika hendak mengambil gambar, dekatkan kameramu ke objek. Bawa kameramu mendekati objek, baru ambil gambar. Hindari melakukan zooming memakai fitur di kamera. Hal ini akan menimbulkan goncangan pada gambar.
  • Jangan bergerak, jangan goyang saat mengambil gambar. Gunakan alat bantu (seperti tripod atau monopod, atau yang lainnya) agar gambarmu stabil. Gambar yang goyang tidak enak untuk ditonton.
  • Pastikan cahaya datang dari arah belakang kamera. Kalau cahaya datang dari depan kamera, objek akan menjadi gelap. Wajah tokoh videomu jadi tak terlihat.
  • Tak perlu menggunakan efek digital pada kamera. Untuk persoalan efek, bisa kita tambahkan saat proses editing. Namun, kalau efek sudah langsung diterapkan saat pengambilan gambar, maka gambar tersebut tidak bisa diutak-atik lagi. Jika efeknya sudah langsung terpasang, maka kita tidak bisa menghilangkan/mengembalikan videonya seperti asli tanpa efek.
  • Selalu ambil gambar yang menarik perhatian kamu. Buatlah video yang bisa bercerita. Untuk itu, selalu ambil gambar yang menarik. Upayakan ada cerita di tiap potongan gambar.
  • Gunakan mikrofon eksternal. Jika kamu hendak merekam suara saat proses syuting, pastikan memakai mikrofon eksternal. Jangan hanya mengandalkan fitur perekam di kamera. Sebab kamera akan merekam semua suara yang ada di sekitarnya. Jika ini terjadi, suara utama yang kita inginkan (misal: kata-kata yang diucapkan tokoh) jadi tidak terekam dengan jelas.
  • Buatlah video yang singkat. Berkali-kali Steve menekankan bahwa video yang singkat lebih baik dibanding yang panjang. Semakin singkat semakin baik.

Penasaran? Baca langsung deh bukunya. 🙂

Nilai yang Saya Berikan

Saya memberikan nilai 8 dari 10 untuk buku ini. Alasannya karena buku ini mudah dimengerti dan cocok untuk kalangan pemula. Meski tak membahas soal teknis, buku ini bisa membentuk pola pikir seorang videografer yang keren. Usai membaca buku ini, pembaca akan memiliki pola pikir seorang sutradara. Dengan demikian, pembaca jadi tahu bagaimana cara membuat videonya jadi menarik.

Di situs Goodreads, buku ini juga mendapatkan rating yang cukup baik. Ketika saya membaca review di Goodreads pada 23 Juli 2017, buku ini mendapatkan rating 4,14 dari 5. Bahkan cukup banyak pengguna Goodreas yang menyematkan 5 bintang untuk buku ini.

Contoh beberapa komentar dari pengguna Goodreads.

Intinya, buku How To Shoot Video That Doesn’t Suck cocok dipelajari bagi kamu yang berminat di bidang videografi. Khususnya bagi para pemula. Usai mempelajari buku ini, kamu akan tahu cara memproduksi video yang menarik untuk ditonton. Buat kamu yang mau jadi YouTuber, bisa juga baca dan terapkan ilmu dalam buku ini.

Jefferly Helianthusonfri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *