Buku Unik dari Seth Godin : We Are All Weird

Seorang pria weird (aneh) tergambar jelas di cover buku. Ia mengenakan topi kerucut aneh, tak ketinggalan janggutnya yang lebat dan panjang menjuntai indah. Seolah janggut itu hendak berkata “Hei liat aku, keren kan?”

we are all weirdYap itulah buku yang akan saya review kali ini. Buku tersebut berjudul We are all Weird, ditulis oleh Seth Godin.

Jangan bayangkan Gramedia nan mengah bak Gramedia Matraman atau Gramedia Central Park, saya menemukan buku ini di ajang obral buku. Sebuah obral buku yang diadakan oleh Gramedia di salah satu mal di Bengkulu, tepatnya di Megamal Bengkulu.

Kesan saya terhadap buku ini adalah aneh, unik, nyeleneh, tapi gokil. Ya buku ini tak hanya menjual kesan anehnya. Lebih dari itu buku ini siapa menghadirkan inspirasi bagi siapa saja yang mau memetiknya.

Buku tentang apa sih ini? Apa inspirasi yang bisa dipetik dari buku ini? Berapa nilai yang saya berikan untuk buku ini? Ini dia jawabannya.

We Are All Weird Menghadirkan Inspirasi Bagi Siapa Saja

Nama Seth Godin biasanya identik dengan buku-buku seputar marketing. Pun buku ini juga tak bisa lepas dari bayang-bayang tersebut. Hanya saja, buku ini bukan hanya untuk para marketer, tapi untuk semua orang yang berurusan dengan manusia.

We are All Weird adalah buku yang membahas tentang potensi ceruk pasar dan dunia yang sudah berubah. Bah, berubah macam mana’ pula?

Coba deh perhatikan keadan sekitar kita. Jika Anda pernah hidup di tahun 70 – 90’an, barangkali musik yang Anda dengar akan sama dengan apa yang didengar teman-teman Anda. Film yang akan Anda tonton kemungkinan besar sama seperti teman sekolah Anda. Minat Anda pun mungkin juga tak jauh beda dengan teman-teman sekitar Anda.

Tapi coba bandingkan dengan zaman sekarang (misal : 2016), selera orang kian berbeda dan beragam. Saya yang lahir di penghujung 90’an justru demen sama lagu-lagu Queen. Saya yang termasuk generasi Y, juga hapal lagu-lagu Karma Chamaleon. Padahal lagu tersebut lahir jauh sebelum saya. Belum lagi, sekarang hobi orang kian beragam. Ada yang suka hobi A, hobi B, C, dan seterusnya.

Kenapa ini terjadi?

Karena terjadi pergeseran dari mass ke niche. Dari massa ke ceruk pasar. Jika dulu musisi yang lagunya terkenal adalah musisi-musisi massa yang sering diliput media, terus-terus tampil di media mainstream, maka kini telah hadir karya-karya alternatif. Musik tak lagi didominasi oleh mereka yang arus utama, tetapi mereka yang indie-mereka yang niche juga punya pasar.

Fenomena pergeseran dari mass ke niche inilah yang disoroti dalam buku We are All Weird. Dalam buku ini, Godin mengulas fenomena tersebut secara menarik, to the point, dan inspiratif. Anda akan berkali-kali menganggukkan kepala terhadap apa yang dibahas oleh Seth.

Oh iya buku ini tipis, beneran, (kurang lebih hanya 100 halaman). Hanya butuh waktu dua hari untuk baca buku ini. Bahkan saya membaca buku ini justru sesaat sebelum tidur. Kata-kata Seth seakan menjadi dongeng pengantar tidur saya.

Versi bahasa Indonesia dari buku ini diterbitkan oleh Penerbit Kaifa (Mizan).

Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Buku Ini

Pelajaran utama yang saya petik dari buku ini adalah kita harus sadar terhadap fenomena bertambahnya orang-orang weird. Jika diibaratkan kurva, maka gambarannya seperti ini.

kurva dalam buku we are all weird

Bagian punuk (tengah) kurva adalah pasar orang-orang normal (mainstream). Makin hari, makin banyak orang aneh. Ini ditandai dengan makin banyaknya kebutuhan dan selera orang, makin lebarnya kurva di kiri dan kanan. Pelebaran kurva inilah yang memunculkan istilan long tail.

Perhatikan kurva. Di pinggir kurva muncul orang-orang weird. Mereka inilakh para pecandu Twitter, pecandu operasi plastik, penggemar kopi tertentu, penggemar musik aneh tertentu, dan sebagainya. Mereka inilah yang juga perlu diperhatikan oleh para marketer ataupun product creator.

Saya pikir inilah pesan utama yang ingin disampaikan Godin dalam bukunya. Godin juga mengajak agar kita turut merangkul orang-orang weird tadi, bahkan kalau perlu menjadi weird juga.

Selain gaya bahasanya yang cukup enak (bagi saya), Godin banyak menyampaikan analogi dan cerita yang menarik. Bahkan beberapa kata-kata Godin cukup membekas di pikiran saya. Salah satunya seperti ini.

“Kaya berarti membuat pilihan, memilih sebuah identitas dan mengikuti jalan yang Anda pedulikan.”

Godin ingin menyampaikan bahwa kaya bukan hanya tentang seberapa banyak saldo tabungan kita, seberapa banyak harta yang kita miliki, tetapi juga tentang seberapa mampu kita membuat pilihan. Orang kaya adalah orang yang memiliki banyak pilihan. Misalkan si orang kaya bebas mau berlibur ke mana, mau pakai produk apa saja (dari yang murah sampai yang harganya selangit).

Tak harus menunggu punya tabungan 10 milyar, asalkan Anda bebas dan mampu membuat pilihan maka Anda sudah bisa dibilang kaya. 🙂 Yang saya suka adalah Godin banyak memberikan analogi, cerita, dan kalimat yang langsung. Jadi kita tidak melulu dusuguhi berbagai teori dan konsep.

Nilai Untuk Buku Ini

Dari skala 1 – 10, saya memberi nilai 7,8 untuk buku ini. Kenapa? Karena buku ini cukup menarik dan inspiratif. Sebagai seorang pelaku bisnis online, saya pun seakan disentil (lebih tepatnya diingatkan oleh Godin).Godin mengingkatkan agar kita para marketer tak lupa menggarap niche market. Khususnya jika kita punya minat/passion dalam niche tersebut.

Termasuk bagi Anda yang menjalankan bisnis, Anda tak boleh mengabaikan orang-orang aneh (ceruk pasar) tadi. Meskipun pendapatan dari niche market tidak sebesar mass market, jika beragam niche market dapat kita rangkul, maka pendapatannya tak boleh disepelekan.

Ambil contoh bisnis toko buku. Biasanya, 80 % pendapatan toko buku disumbangkan oleh 20 % buku. Dan sisanya (20 % pendapatan) disokong oleh 80 % buku. 20 % buku “dahsyat” ini biasanya adalah buku-buku mainstream yang menyasar mass market (misal : buku agama, novel, buku pelajaran, dsb). Sedangkan mayoritas dari 80 % buku “kelas dua” tadi biasanya bersifat niche (misal : buku komputer, pertanian, dsb).

Lantas, apakah 80 % buku “kelas dua” tadi patut diabaikan?

Jika ini belum zaman internet, maka masuk akal untuk diabaikan. Namun ketika semua sudah serba digital, kenapa kita tidak menggarap 80 % tadi menjadi versi ebook dan dijual secara luas?

Sayangnya, karena 80 % buku tadi penjualannya tidak sedahsyat 20 % yang lain, maka 80 % buku tadi diabaikan, dibiarkan teronggok di gudang, dan akhirnya menjadi stok mati. Padahal kalau semua buku tadi diperlakukan dengan lebih baik, penjualan ebook/buku tersebut bisa memberi kontribusi tambahan bagi pendapatan toko buku dan penerbit.

Anyway, siapapun yang cerdik dan terinspirasi dapat mulai merangkul niche market yang weird tadi. Termasuk Anda pun bisa ikut bermain di niche market dan pasar orang-orang weird.

Semoga menginspirasi,

Jefferly Helianthusonfri

2 comments

  1. saya juga udah baca bukunya. memang tipis. habis dibaca cuma beberapa jam saja.
    buku ini membantu saya untuk lebih berani mengambil keputusan dan berani menjadi beda. makasih mas Jefferly. 🙂

    1. Terima kasih kembali. Bukunya memang tipis dan cukup inspiratif, khususnya bagi mereka yang ingin tampil beda dan menyasar segmen niche market. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *