Buku Ini Mengubah Hidup Saya

Ada dua hal yang dapat membantu mengubah hidup kita. Dua hal tersebut adalah orang yang kita temui dan buku yang kita baca.

Nah, tiap pecinta buku pasti punya buku yang spesial di hati mereka. Mau tahu buku apa yang sangat spesial bagi saya? Ingin tahu buku yang membantu mengubah hidup saya? Ini dia ulasan selengkapnya.

Judul Bukunya “You Don’t Have to be Born Brilliant”

Cover bukunya.
Cover buku You Don’t Have to be Born Brilliant

Buku yang saya maksud berjudul You Don’t Have to be Born Brilliant. Ini adalah buku pengembangan diri yang sangat bagus. Penulis buku ini ialah John McGrath, seorang pengusaha asal Australia. Versi bahasa Indonesia dari buku ini berjudul You Don’t Have to be Born Brilliant – Anda juga bisa hebat!

Nah, penerbit edisi bahasa Indonesia dari buku ini adalah Gramedia Pustaka Utama.

Dalam buku ini, John memberikan kunci sukses untuk setiap orang yang mau sukses. John menguraikan langkah-langkah konkret yang dapat kita lakukan untuk meraih kesuksesan. Entah itu sukses dalam finansial, karir, keluarga, ataupun menjadi pribadi yang seutuhnya.

Bisa dibilang inilah salah satu buku motivasi dan pengembangan diri terbaik yang pernah saya baca. Omong-omong, saya membaca buku ini ketika kelas 2 SMP.

Mengapa Buku Ini Mengubah Hidup Saya?

Semenjak membaca buku ini saya jadi tidak takut lagi.

Ketika itu saya punya sebuah ketakutan. Ketakutan tersebut adalah saya takut tidak bisa sukses. Saya takut di masa depan kehidupan saya berantakan, tidak sesuai ekspektasi, dan sulit. Waktu SMP saya hampir meyakini bahwa anak-anak yang pintar di sekolah cenderung sulit untuk sukses di dunia nyata. Khususnya dalam hal finansial.

Nah, sewaktu SD sampai SMP saya termasuk murid yang pandai, hampir selalu ranking 3 besar di kelas. Alhasil saya jadi takut saya tidak bisa sukses.

Ketika SMP saya merasa takut bahwa saya tidak bisa sukses. Sampai akhirnya saya menyadari sukses bukan sekadar siapa bocah yang beruntung, tapi siapa yang memantaskan diri untuk beruntung.
Ketika SMP saya merasa takut bahwa saya tidak bisa sukses. Sampai akhirnya saya menyadari sukses bukan sekadar siapa bocah yang beruntung, tapi siapa yang memantaskan diri untuk beruntung.

Saya merasa demikian karena saya melihat bahwa banyak orang-orang kaya di dunia justru orang yang tidak sukses di sekolah.  Bill Gates dan Mark Zuckerberg bahkan drop out dari perguruan tinggi, tapi mereka justru masuk deretan orang terkaya di dunia. Mark dengan Facebook-nya sudah mengubah dunia, Bill dengan Microsoft-nya sudah mengubah cara kita hidup. Tak hanya Mark dan Bill, beberapa kerabat yang saya kenal pun juga sukses dalam bisnis. Padahal mereka tidak pandai-pandai amat saat sekolah. Bahkan ada yang tidak kuliah.

Belum lagi, banyak orang di sekitar saya yang meyakini bahwa sukses itu karena nasib. Jadi sekeras apapun kamu berusaha, sepandai apapun kamu, kalau nasib kamu tidak baik, maka kamu tidak akan sukses. Parahnya orang tua saya pun pernah mengatakan hal tersebut. Semua tergantung nasib.

Alhasil saya pun meyakini bahwa saya sulit (bahkan tidak mungkin) sukses.

Inilah jahatnya pendidikan yang keliru. Ketika orang-orang menjadikan anak kecil punya pemahaman yang salah, ketika orang-orang memadamkan mimpi si anak, ketika orang memberi mindset yang salah pada anak-anak. Bahkan tidak sedikit orang yang sampai dewasa masih belum bijak. Masih banyak struggle, masih berkutat dengan masalah yang justru mereka ciptakan sendiri. Bisa jadi ini karena adanya kesalahan nilai yang ia pelajari. Plus ia yang tidak peka untuk terus belajar.

Acara ini juga turut membantu mengubah hidup saya.
Acara ini juga turut membantu mengubah hidup saya.

Sampailah suatu hari saya berjumpa dengan acara Mario Teguh Golden Ways. Ketika saya SMP, talkshow Mario Teguh Golden Ways masih relatif baru (mungkin baru 1 atau 2 tahun). Ketika itu, ayah saya menyarankan agar saya menonton acara Mario Teguh Golden Ways. Semenjak itu, sampai SMA, saya tak pernah absen menyaksikan Mario Teguh Golden Ways. Banyak pelajaran yang saya petik dari talkshow andalan Metro TV ketika itu.

Sayangnya, semakin ke sini saya melihat talkshow Mario Teguh ini (entah itu di MNC ataupun di Kompas TV) mulai banyak dipenuhi ajang curhat, kesedihan, dan air mata. Jujur saya justru lebih suka acara Mario Teguh seperti yang dulu. Ketika topik yang dibahas bukan hanya sekadar cinta dan asmara, bukan cuma tentang persoalan rumah tangga, melainkan membahas tentang pengembangan karir, cara tampil di publik, dan lain sebagainya.

Usai menonton Mario Teguh Golden Ways saya punya mindset yang baru tentang kesuksesan. Saya jadi tahu bahwa sukses bukan hanya karena nasib, melainkan ada langkah dan sistem agar menjadi sukses.

Tak cukup sampai di situ, tepat ketika kelas 2 SMP saya menemukan buku You Don’t Have to be Born Brilliant. Buku ini adalah tiket sukses saya yang kedua. Menemukan dan mempelajari buku ini ibarat memasuki zaman pencerahan. Inilah masa awal renaisans saya. Rasanya seperti menjadi Leonardo da Vinci di Florence pada zaman renaisans. Beruntungnya , saya jadi tahu kunci dan langkah sukses di usia yang amat muda (usia saya waktu itu baru 13 tahun!).

Hal yang paling saya sukai adalah melalui buku ini John membagikan rahasia suksesnya. Ia menggunakan cerita-cerita yang menarik, cerita ketika ia “jatuh” di masa sekolah. Cerita ketika ia berani mengambil risiko untuk berangkat dari Australia ke Amerika guna menemui mentornya. Cerita ketika ia pertama kali belajar public speaking. Semuanya menarik.

Tak cukup sampai di situ, John juga membagikan langkah-langkah sukses yang ia lakukan sehari-hari. Ia bercerita kapan ia bangun, apa rutinitasnya di pagi hari, bagaimana dia memotivasi timnya, bagaimana ia menjaga kesehatan, bagaimana ia makan, bagaimana ia membangun bisnisnya, dan banyak lagi. Intinya, dengan membaca buku ini kita bisa melakukan jurus ATM (bukan Atletico Madrid, tapi Amati Tiru Menambahkan).

Kita bisa mengamati, meniru, dan kemudian menambahkan apa yang sudah diajarkan oleh John.

Nilai Untuk Buku Ini

Dari 1 – 10, saya memberi nilai 8,8 untuk buku ini. Alasan saya memberi nilai yang cukup tinggi adalah John mampu mengemas buku ini dengan sangat menarik, santai, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Bahkan saya yang masih SMP pun begitu asyik membaca buku ini.

Salah satu pelajaran terbesar yang saya ingat dari buku ini adalah John memberi semangat pada yang tak berprestasi di sekolah, tapi ia juga membela (mengapresiasi) mereka yang berprestasi di sekolah. Di saat banyak orang yang mengatakan bahwa sukses di sekolah/kelas tidak menjaminmu untuk sukses di dunia nyata, John justru memberi analogi anak pintar di sekolah sebagai mereka yang beruntung. Mereka beruntung, mereka sudah baik, dan tinggal terus meningkatkan diri.

Jadi, jika Anda tertarik mempelajari mindset dan sistem yang tepat untuk sukses, Anda dapat belajar dari buku ini. Oh iya, jika Anda ingin mengenalkan konsep kesuksesan pada anak-anak, ingin mereka lebih percaya diri, ingin mereka lebih berprestasi (baik di sekolah ataupun di luar sekolah), Anda dapat mengajak mereka membaca buku ini. Saya jamin pasti bermanfaat. 🙂

Jefferly Helianthusonfri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *